Laila Sa'adah

Transform Your Life

GANG MAKAM

Posted by laila sa'adah pada Juli 25, 2009

cobaOleh : U. Laila Sa’adah

Bintang berkedip-kedip bersama cahanya bulan yang terlihat temaram malam ini, awan gelap memang tak henti-hentinya melintas untuk menghapus jejak meraka. Malam ini terlihat sangat gelap, awan hitam dari tadi berusaha menguasai langit. Tidak hanya bintang dan bulan yang kalah, aku sendiri bertambah takut, bagaimana kalau giliranku belum datang hujan sudah turun.

Bisa ditaksir Anton pasti sangat lama sorogan ke pak ustadz. Sedangkan setelah Anton masih ada Pai, dan Ruri, masih tiga orang lagi semoga saja air yang dibawa awan-awan itu tidak segera ingin turun. Aku masih menatap langit di serambi depan langgar.

“Man masih lama ya?”
Tiba-tiba Andi duduk di sampingku.
“iyo, itu lihat masih ada Pai ma Ruri di belakang Anton, mengko tunggu aku yo, mosok aku muleh dewe”
“Santai Wae, sekalian nunggu Anton tho”

Aku hanya menundukkan kepala tanpa semangat.

Kita bertiga Anton, aku sama Andi memang seringkali pulang pergi berang untuk ngaji di langgar. Sebenarnya tidak ada kesepakatan atau perjanjian yang mengharuskan kita untuk berangkat atau pulang bareng. Atau ikatan persahabatan yang kuat sehingga Andi mau menunggu Anton atau aku untuk pulang bareng dari ngaji di langgar. Karena dikatakan sahabat kita juga bukan tiga serangkai yang sangat akrab, kita tidak pernah bermain bersama, apalagi mengerjakan tugas bersama seperti layaknya hubungan persahabatan.
Bahkan seringkali kita bertengkar hanya karena berebut barisan siapa yang harus di depan dan siapa yang di belakang, untuk melewati gang makam agar cepat sampai di rumah kami bertiga. Sekolah kami juga tidak sama, Anton yang dari keluarga berada lebih memilih ke sekolah unggulan dan mahal. Andi yang dari keluarga sederhana dan bisa dikatakan mampu memilih sekolah dekat dengan tempat bekerja ayahnya di pabrik rokok agar bisa sekalian berangkat dan pergi bersama.

Sedangkan bapakku hanya tukang becak yang tak tamat sekolah STM, hanya mampu menyekolah kan aku di sekitar desa kami saja.
Walaupun dikatakan ndeso tapi aku sudah merasa beruntung, karena selain sekolahannya dekat, dapat dijangkau dengan jalan kaki, juga tidak aneh-aneh, ada tarikan ini itulah atau masalah jam belajar yang terlampau lama. Aku jam 12 sudah pulang sekolah, bisa membantu mamak, ajak main adik, dan bermain-main sama teman sekolahku di lapangan.

Berbeda dengan Andi sama Anton mereka masih harus mengikuti les, sekolah mereka seperti trend sekolah saat ini full day school. Maka tidak ada deh waktu bermain bareng sama teman sebaya di sekitar rumah, liburan saja mereka ada kegiatan.

Belum lagi yang kadang aku dengar dari cerita mereka ketika di sekolah, ada tarikan uang kesehatan, laboratorium, pengembangan bahasa dan masih banyak ini dan itu. Yah memang  sekolah mereka di kota sih dengan fasilitas yang sangat bisa mendukung muridnya menjadi yang katanya bisa lebih pintar dan nilai yang memuaskan.

Kami hanya bertemu ketika mau berangkat ke langgar. Langgar tempat kami mengaji memang bisa dikatakan dekat dengan rumah. Hanya berjarak satu gang depan dari rumah kami, tetapi walaupun satu gang kami harus melewati makam umum warga. Sebenarnya terdapat jalan tanpa kita harus melewati gang makam, tetapi sangat jauh, harus memutar ke jalan utama desa yang bisa berjarak 3 km. Kalau melalui gang tidak ada 5 menit jalan kaki sudah nyampe deh.

Awalnya mereka berdua ketika pulang dari langgar habis isya’ di jemput oleh ayahnya tetapi seringkali mereka tidak dijemput akhirnya kami bertiga pulang sama-sama. Aku sendiri sebenarnya penakut, tetapi menjadi sangat berani karena tidak ada pilihan lain. Bapakku kadang pergi membecak dari pagi sampai malam, kalau aku takut tidak jadi berangkat ngaji dong. Kalau sampai terpaksa aku menunggu penjual bakso Sri Rejeki lewat makam. Menunggu di langgar sampai tukang bakso lewat dan pergi sama-sama deh.

Tapi lebih seringnya aku menjadi peserta lomba lari, dengan memulai membaca lafadz bismillahirrohmanirrohim, jantung mulai berpacu dengan keras dan aku berlari kencang tanpa menoleh ke kanan kiri. Sampai bagaimana caranya aku tidak bisa melihat andaikan ada orang di sepanjang gang yang aku lewati. Aku takutnya itu bukan orang sungguhan, itu hanya hantu cantik yang ingin menggodaku.

Aku tidak pernah menghitung waktu kecepatanku ketika berlari. Tetapi yang penting cepat sampai dengan selamat. Masih banyak orang-orang di desaku yang tiba-tiba menghilang ketika kelur rumah sore hari, katanya sich dibawa oleh gendruwo hiiii….
Akhirnya giliranku datang, dengan suara lantang aku memulai membaca Al-Qur’an, angudzubillahiminassyaitonirrojiim, bismillahirrohmanirrokhiim………..

*      *     *

“Ayo……….”
“Homgambreng”
Ternyata semua sama-sama menjulurkan telapak tangan
“Gambreng”
Belum ada yang berbeda
“Gambreng”
Dan terlihat tangan anton membalik telapaknya, sedangkan aku sama andi sama-sama punggung tangan.
Akhirnya aku sama Andi suit. Andi deh yang menang dan akhirnya malam ini aku dalam barisan terakhir. Memang gang sangat sempit, sehingga kita tidak bisa berbaris berbanjar bertiga, tetapi harus satu-satu, sebenarnya kalau warga mau kerja bakti membangun jalan, gang makam bisa agak luas karena sisinya hanya terhalang rumput yang makin lama makin melebar sehingga sisa jalan makin menyempit.
Kami berdoa bersama sebelum berlari
“Kamu nanti lari yang cepat ya Ton biar aku juga bisa berlari cepat”
“Ok, bro”
“Satu, dua, tiga…….”
Kami berlari kencang, tapi tiba-tiba anton berhenti berlari aku sama Andi jadi menubruk Anton deh…
“Aduh, aduh…….”
“Kamu dak apa-apa Ton?”
Ndak apa-apa”
”Kenapa kamu berhenti tho Ton.”
Itu lho ada bayangan di depan, kuning-kuning, dan kayaknya ada orang di belakangnya.
Aku tiba-tiba terdiam sesaat, berdetak keras jantung ini
“thok….thok……..thok…..thok”
“Wah itu suara tukang bakso, bukan hantu. Itu bakso Sri Rejeki yang biasanya aku jadikan teman ketika pulang sendiri”
“Huh, tak kirain apa”
“Ayo cepat ke sana aku sudah merinding nih”
Kami lalu berjalan agak sedikit berlari, ternyata dugaan kami benar, mas Budiman penjual bakso.
“Mas jam segeni koq sudah lewat sih, biasanya kan baru setengah jam lagi”
“Lagi sepi man”
“Ooo……..tadi kita sempat kaget liat sampean dari belakang mas, takutnya hantu”
“Ah mana ada hantunya, hantunya takut gangguin anak-anak yang pulang ngaji”
“Masak sih mas……hiii ayo cepat mas bawa gerobagnya….”

*     *     *

Pulang sekolah aku melihat becak bapak masih ada di samping rumah
“Assalamu’alaikuuum”
“Wa’alaikumsalam, jangan keras-keras tho le kalau salam. Pulang sekolah ganti dulu bajunya jangan langsung main”
“Ok mamak, becak bapak koq masih ada mak”
“Iyo bapakmu lagi nglayat, mangkane gak narik becak”
“Lho sopo seng ninggal”
“Pak Bejo, ninggale jam 9”
Sejenak aku terdiam di dalam kamar, belum sempat aku mengganti pakaianku.
“Le kalau mau makan, lauknya ada di lemari, le…?”
Mamak memasuki kamar melihat diriku yang sedang melamun.
“Ealah koq nglamun, ikolho lek arep mangan lawue neng mejo”
Aku hanya menganggukkan kepala. Aku membayangkan bagaimana nanti aku berangkat mengaji, belum lagi pulangnya, kalau tiba-tiba aku dihadang dimintai bareng pulang ke rumah gimana, karena biasanya pak Bejo memang sering aku antar pulang ketika selesai sholat Jum’at di masjid depan hiiii.
“Maaak mamak di mana, temani Lukman makan dulu mak”
Langsung aku keluar kamar tanpa sempat berganti pakaian.

*      *     *

“Bapak pokoknya harus membelikan Lukman sepeda, Lukman tidak mau lewat gang makam lagi, Lukman butuh sepeda buat pergi ke langgar. Lukman dari dulu tidak pernah minta mainan yang aneh-aneh, sekarang Lukman minta sepeda buat ngaji pak.”
Sambil merengek disamping bapak yang sedang merokok di beranda rumah. Setelah dari makam bapak memutuskan tidak narik becak, katanya sekalian nanti malam saja.
“Iyo tak belikan tapi tidak sekarang atau besok ya le”
“Terus Lukman nanti berangkatnya gimana, Lukman takut lewat gang makam nanti pak Bejo manggil-manggil”
“Le pak Bejo iku wong apik, matine ora bakal ngedeni bocah, wong wes mati mosok tangi maneh, kakehan nonton TV”
“Pokoe kalau tidak ada sepeda Lukman tidak ngaji”
“Loh malah ora ngaji, mengko tambah diparani pak Bejo.”
“Paaak….?”
Saking merasa takutnya aku mau meneteskan air mata
“Iyo mengko bapak anter ke langgar naik becak, pulangnya juga, bapak narik nanti setelah kamu pulang dari langgar, guyu disik mosok nangis”
Ku coba tersenyum. Aku memang tidak mau sehari saja tidak mengaji, karena selain ketinggalan nanti aku juga hafalannya tambah banyak.

*     *     *

Sudah dua hari aku tidak masuk, Anton sama Andi kayaknya juga tidak masuk. Pasti hafalanku nanti tambah banyak. Dalam hati pokoknya sepeda. Setiap bapak pulang dari narik aku selalu mengingatkan bapak. Bapak bilangnya tetap “iya bapak belikan” tapi kapan.
Hari ini pulang pagi, biasa ibu dan bapak guru sedang ada rapat.
Belum sampai 5 meter aku keluar dari gerbang sekolah, ada rame-rame dari belakang, aku lihat ada pandoso. Hah ada orang meninggal lagi, langsung aku masuk ke halaman orang. Aku bersembunyi di bawah pohon luntas. Terasa cepat sekali mereka lewat, aku tunggu agak lama sebelum keluar dari persembunyian agar tidak melihat pandoso. Setelah agak lama aku baru keluar, ku lihat masih ada sisa-sisa orang pelayat, ada seorang ibu muda di sampingnya kedua anaknya dirangkul sambil berjalan. Terlihat matanya masih sembab, dan kadang juga masih mengeluarkan air mata. Anak yang agak besar hanya menundukkan kepala. Ada beberapa perempuan yang menemani. Apa mungkin itu istrinya yang meninggal tadi.
Aku berjalan di belakangnya. Aku ikut berjalan perlahan seperti mereka.
Sampai di persimpangan jalan aku berbelok dan berlari kencang, seakan aku ingin sampai di rumah, aku berlari kencang sekencang-kencangnya seperti ketika aku lewat gang makam.
“Mak bapak sudah pergi belum”
“Itu baru siap-siap mau narik, ono opo to le, pulang sekolah kayak dikejar hantu, tidak salam lagi”
Tidak aku hiraukan kata-kata mamak, ku cari bapak dan aku bilang sambil masih terengah-engah
“Pak tidak usah dibelikan sepeda, biar Lukman tetap lewat gang makam saja”
Bapak masih diam saja dan aku langsung pergi ke kamar ganti baju. Sesaat aku teringat wajah anak kecil tadi. Dalam hati biarlah aku tidak punya sepeda asalkan masih punya bapak.

*     *     *

Di mulai dengan basmalah dan kekuatan penuh aku berlari kencang, dengan menghilangkan bayangan pak Bejo, maupun buruh bangunan yang baru meninggal karena kecelakaan kerja dan meninggalkan anak dan istrinya. Aku bersyukur karena masih mempunyai bapak  Dalam hati aku hanya berdoa semoga ilmuku tetap bermanfaat walau setiap hari aku berlari – lari sepulang dari mengaji…………., terdengar suara “thok….thok…..thok” dan aku menoleh………

Kediri, 5 Februari 2009

Langgar : Mushola kecil/ surau
Pandoso : Tempat yang digunakan untuk mengangkat orang meninggal menuju makam
Le kepanjangan dari thole : Sebutan untuk memanggil anak laki-laki
Nglayat : Melayat

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: