Laila Sa'adah

Transform Your Life

Archive for Juli, 2009

AKU PEREMPUAN

Posted by laila sa'adah pada Juli 25, 2009

Oleh: Del Lila

Patutkah aku benci menjadi perempuan karena budayaku,
Aku benci menjadi perempuan karena praktek agamaku
Aku benci menjadi perempuan karena ilmu yang telah kumiliki
Aku benci menjadi perempuan karena pengetahuanku,
Karena kebebasan itu sendiri,
Aku benci menjadi perempuan……patutkah?
Perempuan dalam kubangan, yang tak tahu harus dari mana diangkat, dari sudut mana didekati, dari sisi mana dilihat. Fisiknya belum tentu, psikisnya tidak juga, pikiran juga tidak bisa dijadikan patokan, karena dia bukan victim yang sebenarnya.

Lebih baikkah perempuan dibuat pintar ketika akhirnya harus dibodohi, akan sakit hatinya
Dibuat berani juga tak berarti ketika akhirnya dikungkung pada buih nasibmu, hatinya menangis
Teriakan semangatmu apakah tidak memberikan dendam kusumat….

Jangan kau bukakan jalan bagi kami karena kami bisa menembus dengan jalan kita sendiri….
Teruskan perjuanganmu kaum perempuan-perempuan yang tak pernah lelah dalam memperjuangkan apapun, politik, ilmu pengetahuan, ekonomi, atau hanya untuk sesuap nasi bagi anakmu…….
Hanya kamu yang tahu, hanya dirimu yang tahu akan jalanmu, nasibmu atas arti sebuah perjuangan bagi dirimu dan kaummu.

Kediri, 21 Mei 2008

Posted in My Poem | Dengan kaitkata: | Leave a Comment »

GANG MAKAM

Posted by laila sa'adah pada Juli 25, 2009

cobaOleh : U. Laila Sa’adah

Bintang berkedip-kedip bersama cahanya bulan yang terlihat temaram malam ini, awan gelap memang tak henti-hentinya melintas untuk menghapus jejak meraka. Malam ini terlihat sangat gelap, awan hitam dari tadi berusaha menguasai langit. Tidak hanya bintang dan bulan yang kalah, aku sendiri bertambah takut, bagaimana kalau giliranku belum datang hujan sudah turun.

Bisa ditaksir Anton pasti sangat lama sorogan ke pak ustadz. Sedangkan setelah Anton masih ada Pai, dan Ruri, masih tiga orang lagi semoga saja air yang dibawa awan-awan itu tidak segera ingin turun. Aku masih menatap langit di serambi depan langgar.

“Man masih lama ya?”
Tiba-tiba Andi duduk di sampingku.
“iyo, itu lihat masih ada Pai ma Ruri di belakang Anton, mengko tunggu aku yo, mosok aku muleh dewe”
“Santai Wae, sekalian nunggu Anton tho”

Aku hanya menundukkan kepala tanpa semangat.

Kita bertiga Anton, aku sama Andi memang seringkali pulang pergi berang untuk ngaji di langgar. Sebenarnya tidak ada kesepakatan atau perjanjian yang mengharuskan kita untuk berangkat atau pulang bareng. Atau ikatan persahabatan yang kuat sehingga Andi mau menunggu Anton atau aku untuk pulang bareng dari ngaji di langgar. Karena dikatakan sahabat kita juga bukan tiga serangkai yang sangat akrab, kita tidak pernah bermain bersama, apalagi mengerjakan tugas bersama seperti layaknya hubungan persahabatan.
Bahkan seringkali kita bertengkar hanya karena berebut barisan siapa yang harus di depan dan siapa yang di belakang, untuk melewati gang makam agar cepat sampai di rumah kami bertiga. Sekolah kami juga tidak sama, Anton yang dari keluarga berada lebih memilih ke sekolah unggulan dan mahal. Andi yang dari keluarga sederhana dan bisa dikatakan mampu memilih sekolah dekat dengan tempat bekerja ayahnya di pabrik rokok agar bisa sekalian berangkat dan pergi bersama.

Sedangkan bapakku hanya tukang becak yang tak tamat sekolah STM, hanya mampu menyekolah kan aku di sekitar desa kami saja.
Walaupun dikatakan ndeso tapi aku sudah merasa beruntung, karena selain sekolahannya dekat, dapat dijangkau dengan jalan kaki, juga tidak aneh-aneh, ada tarikan ini itulah atau masalah jam belajar yang terlampau lama. Aku jam 12 sudah pulang sekolah, bisa membantu mamak, ajak main adik, dan bermain-main sama teman sekolahku di lapangan.

Berbeda dengan Andi sama Anton mereka masih harus mengikuti les, sekolah mereka seperti trend sekolah saat ini full day school. Maka tidak ada deh waktu bermain bareng sama teman sebaya di sekitar rumah, liburan saja mereka ada kegiatan.

Belum lagi yang kadang aku dengar dari cerita mereka ketika di sekolah, ada tarikan uang kesehatan, laboratorium, pengembangan bahasa dan masih banyak ini dan itu. Yah memang  sekolah mereka di kota sih dengan fasilitas yang sangat bisa mendukung muridnya menjadi yang katanya bisa lebih pintar dan nilai yang memuaskan.

Kami hanya bertemu ketika mau berangkat ke langgar. Langgar tempat kami mengaji memang bisa dikatakan dekat dengan rumah. Hanya berjarak satu gang depan dari rumah kami, tetapi walaupun satu gang kami harus melewati makam umum warga. Sebenarnya terdapat jalan tanpa kita harus melewati gang makam, tetapi sangat jauh, harus memutar ke jalan utama desa yang bisa berjarak 3 km. Kalau melalui gang tidak ada 5 menit jalan kaki sudah nyampe deh.

Awalnya mereka berdua ketika pulang dari langgar habis isya’ di jemput oleh ayahnya tetapi seringkali mereka tidak dijemput akhirnya kami bertiga pulang sama-sama. Aku sendiri sebenarnya penakut, tetapi menjadi sangat berani karena tidak ada pilihan lain. Bapakku kadang pergi membecak dari pagi sampai malam, kalau aku takut tidak jadi berangkat ngaji dong. Kalau sampai terpaksa aku menunggu penjual bakso Sri Rejeki lewat makam. Menunggu di langgar sampai tukang bakso lewat dan pergi sama-sama deh.

Tapi lebih seringnya aku menjadi peserta lomba lari, dengan memulai membaca lafadz bismillahirrohmanirrohim, jantung mulai berpacu dengan keras dan aku berlari kencang tanpa menoleh ke kanan kiri. Sampai bagaimana caranya aku tidak bisa melihat andaikan ada orang di sepanjang gang yang aku lewati. Aku takutnya itu bukan orang sungguhan, itu hanya hantu cantik yang ingin menggodaku.

Aku tidak pernah menghitung waktu kecepatanku ketika berlari. Tetapi yang penting cepat sampai dengan selamat. Masih banyak orang-orang di desaku yang tiba-tiba menghilang ketika kelur rumah sore hari, katanya sich dibawa oleh gendruwo hiiii….
Akhirnya giliranku datang, dengan suara lantang aku memulai membaca Al-Qur’an, angudzubillahiminassyaitonirrojiim, bismillahirrohmanirrokhiim………..

*      *     * Baca entri selengkapnya »

Posted in Kumpulan Cerpenku | Leave a Comment »