Laila Sa'adah

Transform Your Life

Tubuh dan Tanahku

Posted by laila sa'adah pada Juli 7, 2008

Oleh : laila sa’adah

Malam mengurai mimpi bagi siapapun yang menghendaki
keinginan. Gilasan mentari tak akan muncul dikala
belum ada kursi yang tepat untuk menaunginya, malam
tak menghendaki siapapun membawa petaka baru yang
menyentil sekawanan petidur.
Aku terusik ketika mimpiku bukan keinginanku. Terasa
sebuah tamparan yang kuat mendarat dipipiku. Kalaupun
urat tubuh ini terlihat mulai dari ubun-ubun sampai
vaginaku akan terlihat bagaimana urat ini menegang
menghentak saraf mata, telinga, hidung dan tangan
untuk menendangnya sampai ke neraka.
Rambut hitamku yang selalu tergerai indah, lurus dan
panjang. Bola mata hitam dan tajam di payungi bulu
mata lentik menatap belaian sutra yang menempel
ditubuh kuning langsatku, tubuhku yang tidak begitu
tinggi dan juga tidak terlalu pendek, kelihatan sesuai
di ranjang tidur malam ini.

“hik….hik….hik”
Tangisku sudah tak dapat kubendung lagi. Riasan di
wajah sudah mulai luntur, mataku tertusuk lagi oleh
air mata kelemahanku. Menjijikkan kenapa aku hanya
bisa melawan dengan tangis, tangis, tangis yang hanya
membuatmu merasa lemah dan selalu ingin ditolong. Tapi
apa yang bisa aku lakukan jika pangeran yang selama
ini aku puja dan sanjung dengan balutan cinta ternyata
seorang penjajah yang hanya mengharap kenikmatan.
Kalaupun pandanganku tidak buram dengan cinta setan
ini sudah aku gulingkan penjajah yang berjenis kelamin
lelaki itu, dia memberiku yang terbaik tapi dengan
menyiksaku dan membuatku kagum tapi menghabisiku.
Aku ingin keluar dari rantaimu, rantai system yang
takkan pernah terurai, ketika satu tali mulai mengurai
maka sudut lain akan mencoba untuk mempererat dan
membuat rajutan itu semakin erat dan erat. System yang
membuatku putus asa kapan akan terurai dan aku dapat
menghirup udara segar dari jeratan-jeratanmu?
relasi-relasi yang kau bikin itulah yang paling
menyiksaku.

Aku tahu bahkan yakin kalau keluar dari jeratanmu
bukan berarti “lepas” tapi bisa jadi malah membuka
pintu lain untuk mendapatkan keindahan tubuhku dan
kenikmatan yang akan ku berikan padanya, lewat
gembong-gembongnya kau serahkan dan membuatku sangat
tidak berdaya. Malam ini sudah menunjukkan sengatan
yang tajam dalam diriku. Bahkan rasa perlawananku
sudah sampai ke ubun-ubun, dengarkan ……..malam ini
akan bertambah pekat dengan kegelapan yang ada dalam
hatiku.

* * *

Jurang hati ini semakin dalam, aku hanya bisa
berguling-guling dalam Lumpur kemiskinan dan berbagai
kecurangan, hari ini mentari sudah menduduki
singgasananya menolerkan sedikit energinya untuk
sesuatu yang selalu mengharap-harapnya.
Penjajah itu menemuiku setelah hampir 168 jam
melemparku dengan nasib yang selalu terbebani, bagai
orang yang selalu di kejar-kejar hutang.
Matanya berbinar kagum, wajahnya welas asih dan sangat
santun. Langkahnya mantab dengan lambaian tangan yang
seakan-akan memberikan kelembutan dan kasih sayang.
Sesaat aku terhipnotis dengan pesonanya. Rayuannya
yang hanya lebih dari sebuah retorika dan mencengkeram
kesadaranku.

Dia tersemyum simpul ketika tubuhku telah dipeluknya,
kusandarkan kepalaku kurasakan dekapan tangannya
menggenggam erat seakan-akan tak akan dilepaskannya.
Eratnya dekapan itu, terkuncinya rayuan dalam otak
ini. Terpahatnya kasih sayang ini dalam hati seakan
tak pernah bisa, walaupun hanya sekedar membayangkan
untuk bisa lepas dan merdeka.

Sekilas seringai itu manis tapi setelah berjangka
menjadi sebuah tuntutan yang mengganas dan menjadikan
busung lapar dan kematian. Mana yang dapat membalikkan
nasib ketika kesadarannya sudah ada dalam tajamnya
taring dalam mulutnya?

Kugelengkan kepala dengan sedikit menghentak dia
terkejut-kejut, mungkin dia merasa kenapa gadisku
berubah menjadi beringas?kudorong tubuhnya kedinding.
Kulihat sesaat gurat wajahnya sudah berubah. Tapi
sungguh bodohnya, kesadaran itu ternyata munafik
ketika mental-mental ditubuhku ini masih
membutuhkannya.

“kamu akan kelihatan cantik kalau tersenyum
sayang”
Aku tertekan dengan kata-katanya.

“sekilas aku teringat akan diriku yang takkan bisa
lepas dari bantuannya.
“oooh tidak aku tidak ada apa-apa, maaf kalau sesaat
sudah menghancurkan kemesraan kita”
“aaah aku tahu kalau kamu tidak akan pernah bisa
lepas dari aku. Karena kamu lemah dari semuanya,
bahkan untuk membenahi diri kamu sendiri kamu tidak
mampu, tetaplah bersamaku…besok kau akan ku kenalkan
dengan relasiku yang baru ”
Kubiarkan tubuhku terhempas dalam pelukannya, biarkan
aku merasakan kenikmatan sesaat ini, biarkanlah aku
terhanyut walaupun aku nanti mati perlahan-lahan,
dengan kelaparan, gizi buruk, busung lapar dan sumber
kenikmatan itu hilang, kenikmatan yang kuandaikan ini
sudah berada dalam rengkuhannya, ketika keindahan
sebagai sumber kekuatanku mengikis dan lari, padahal
aku telah memberikan kenikmatan yang aku sendiri tidak
pernah merasakan atas diri sendiri.

* * *

Matilah kamu, sumpah serapah aku tidak akan mau
meminta bantuanmu lagi, kamu sudah aku beri semua
sumberdaya kenikmatanku, gunung, mulut yang lembut,
perut yang gemulai indah ketika kau pinta untuk
menari.
Tapi setelah vagina ini seperti di sunat, kemudian
untuk mendukung kenikmatanmu engkau membiarkanku untuk
tidak bisa hanya menumbuhkan tenagaku. Setiap hari
kamu lumat mulutku hingga manis yang kurasa habis,
hanya sepah dan sebah yang kurasa. Kau lempar aku
kesana-kemari, seakan-akan barang mainanmu. Sekarang
semuanya sudah terbabat habis baru kurasakan
limbungnya diriku nanti atas ancaman dan bergemuruhnya
perut ini.
Untuk menyisakan hanya sekedar dapat bernafas aku
tidak lagi akan mendekatinya, kuhentikan hubungan
dengan dia. Aku sangat sadar julukan penjajah yang aku
sematkan kepadanya dulu ternyata bukan sekedar julukan
tapi memang benar-benar penjajah bahkan kamu adalah
orang yang menakutkan yakni seorang “skizofren”

* * *

“gila kamu gila, dan tidak waras, bagaimana kamu
bisa mengingkari perjanjian kita, ayo ubah
kebijakanmu, kalau tidak pistol ini yang akan
bicara.”
“ayo tembak, tembakkan saja sekarang, aku sudah
tidak takut lagi, selama ini aku sudah terlalu lama
tenggelam dalam korporasimu, setelah semua kau
perawani, telah kau nikmati semua, semua seluk
terindah dari tubuhku engkau sekarang masih
mengejarku…….apa-apa maumu? Teman-temanmu telah
menghabisiku, bahkan kau hanya tertawa saja….dasar
begudaaaaaaal…

Kutatap cukup dekat matanya yang biru, bahkan wajah
kami cukup dekat dan saling bertatapan.
“apa sekarang aku diminta untuk jadi
budakmu?……….aku…..yang telah terenggut
kesucianku…..tapi tidak akan terinjak harga diri
untuk saat ini”
Kuteriakkan keras tepat di depan wajahnya.

“haaaa…….kamu punya harga diri, sejak dulu harga
dirimu telah hilang, dari dulu kamu selalu meminta
bantuanku, kamu tidak pernah percaya diri dengan
potensimu, kamu tidak pernah mencintai dirimu sendiri,
bahkan kamu menyinggung masalah harga diri
…..ayampun tertawa, sekarang sudah tidak ada yang
tersisa dari dirimu, sekarang kamu tingggal punya hati
yang akan aku ambil, dan aku jual untuk di gunakan
sebagai obat, itu akan lebih baik dari pada kondisimu
saat ini yang sudah tidak punya harga diri. Seluruh
organmu akan ku ambil dan akan aku donorkan pada orang
yang sangat membutuhkan, kemampuanmu sekarang sudah
tidak berguna dan hanya akan menjadi sampah yang
sangat bau…, biar-biar aku amputasi ya
sayang…….satu-satu dari bagian tubuhmu”
Daguku diangkat oleh tangan kekarnya.
“ lepaskan, sudah kubilang untuk kali ini
tidak….tidak dan tidak, lebih baik aku mati dengan
diriku saat ini, dari pada mati perlahan untuk menebus
dosa-dosamu, biarkan sekarang aku berpijak dengan
kakiku sendiri dan aku cukup yakin bisa bayar
hutang-hutangku kepada mu.”
“baik itu menandakan kau akan segera mati sehingga
bisa kucincang mayatmu”
“pergi kau bangsat atau kalau tidak gantian kau yang
akan kulucuti, bule bermata biru”
Aku sudah tidak sabar untuk membalas sengasaraku yang
telah kualami saat ini, kuhampiri dirinya ketika dia
berbalik dari hadapanku mau pulang kearah pintu.
Kutarik kerah bajunya dari belakang, kutarik keras
sampai dia terjatuh tersungkur, kemudian langsung
kubuka kemeja bermotif bintang itu, ketika dia masih
merasakan sakit di kepalanya akibat terbentur lantai.
Satu persatu kubuka kemejanya dan kulempar jauh-jauh,
kemudian kubuka celana panjangnya. Kutarik celana
tersebut dan kulepar. Sekarang tinggal celana
dalamnya, terlintas dalam benakku untuk menarik
penisnya biar merasakan sakit yang pernah aku rasakan.
Sebelum kubuka celana dalamnya sempat kudengar
erangannya, ternyata kulihat sekilas kepalanya
berdarah, tapi aku sudah tidak sabar untuk segera
menarik penisnya yang tersimpan hormone
testosteronnya.

Ha kutarik dengan keras dan aku sendiri semakin
terkejut kenapa? Kenapa selama ini aku tidak
mengetahui keburukannya, kuanggap dia begitu sempurna
bahkan semua triknya aku pakai dan aku refleksi dalam
diriku. Semua aku adopsi baik pemikirannya, semua
tindakan bahkan kebijakan yang kuambilpun atas semua
keputusannya.

Betapa bodohnya aku selama ini, benar kalau selama ini
dia mengatakan dari dulu aku sudah tidak punya harga
diri. Masa’ system kepemimpinanpun aku ikut mereka
dengan demokrasinya, padahal dari dulu aku sudah tau
kalau dari matanya dia biru dan aku hitam bagaimana
aku menyamakan dengannya? Kemudian system sekolahpun
juga tak lepas dari model kurikulumnya padahal dari
warna rambutnyapun beda dia pirang aku hitam kenapa
hal itu juga harus sama? kemudian dengan iming-iming
developmentnyapun aku tergetar untuk mengikutinya
padahal lagi-lagi kita jelas berbeda dari warna
kulitnya aku sawo matang dia putih. Bahkan sampai saat
inipun bisa dikatakan aku bangga ketika ketika aku
memakai sampah dari produknya…aaaah
terlalu….memang benar-benar aku ini adalah inlender
….

Sampai saat ini ku lihat dengan mata kepelaku sendiri
bahwa sebenarnya selama ini kita semua, benar-benar
sama. Kalau dibilang kemampuan kita sama……sampai
kulihat engkau tidak mempunyai penis itu tapi engkau
memiliki yang sama denganku VAGINA. Selama ini memang
engkau mampu menipu diriku dengan penampilanmu.
Kalaupun kita berhubungan memang engkau tidak pernah
memperlihatkan kunci yang ada dalam tubuhmu, kamu
selalu mengundang seluruh relasimu sampai ketika
seluruh keperawananku hilang kau serahkan pada temanmu
tapi kamulah yang memonitoring semuanya, kaulah
penyabab semuanya, andaikan ini semua bisa kukatakan
pada dunia….kaulah yang harus di lawan….

“Engkau sekarang telah tau kalau memang benar-benar
akan bangkit, aku yang engkau namakan suku, etnis dan
dunia ketiga tidak akan pernah terima menyandang nama
itu. Karena kau dan aku ternyata tidak jauh berbeda
sama-sama mempunyai vagina.”

* * *

Terutuk seseorang yang selalu
Memberiku semangat dan ketenangan dalam hatiku

Refleksi dari cerpen diatas

Ilmu pengetahuan memang akan selalu berkembang untuk
merespon masanya, bila dulu kemodernan selalu dipuja
dimana-mana dengan kiblat dunia barat. Kemudian
seiring dengan zaman yang terus bergerak tumbuh pula
ilmuawan-ilmuawan baru yang menyatakan bahwa saat ini
kita harus melampaui modern yang kemudian di kenal
dengan postmodern.
Sehingga disitu jelas-jelas nampak bahwa jalan ilmua
pengetahuan memang selalu bergerak, keberadaan
kebenaran yang dulu diagung-agungkan ternyata mati dan
terus beregulasi.
Seperti diungkapan diatas bahwa ilmu pengetahuan
bergerak karena merespon zamannya maka dengan analisis
postmodern terbangun sebuah konsep mengenai
postcolonial yang mana merasakan bahwa selama ini
timur yang dijadikan dunia ketiga ternyata belumlah
merdeka sepenuhnya. Setelah hasil bumi mereka diangkut
ternyata kepercayaan mereka dan tradisi mereka juga
dihapuskan melalui idiologi-idiologi yang sebelumnya
mereka tanamkan. Said mengungkapkan bahwa timur selama
ini hanya merupakan imajinasi dari barat atau dengan
istilah lain timur memang sengaja untuk ditimurkan
oleh barat.
Penderitaan demi penderitaan sehingga akan terus
diterima oleh dunia timur dengan label pembangunannya.

Malang, 18 juni 2006

Oleh:
Laila Sa’adah
Jln. Sunan Ampel no 22 Malang
Mahasiswa UIN Malang
Jln. Gajayana No. 50 Malang

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: