Laila Sa'adah

Transform Your Life

Pembelajaran Interaksi Sosial dalam “Full Day School”

Posted by laila sa'adah pada Juli 7, 2008

Urin Laila Sa’adah
Maraknya full day school yang sampai saat ini  mewarnai nuansa dunia pendidikan kita kelihatanya memang mulai diminati oleh masyarakat terutama dari kalangan ekonomi menengah keatas.

Full day school pada saat ini memang dinilai cukup memberi alternative bagi beberapa pihak antara lain pertama bagi kalangan orang tua khususnya bagi mereka yang sibuk dengan pekerjaan, yang mana akan memudahkan control atas anak-anak mereka, kedua kekhawatiran akan pengaruh dari aspek lingkungan seperti pergaulan bebas, tawuran antar siswa, penggunaan obat-obat terlarang dll. Ketiga dari pihak guru lebih bisa mengetahui proses pembelajaran pada siswa mereka.

Banyak aspek positif yang memang bisa ditawarkan, terutama dari pandangan  pihak orang tua. Tapi kemudian apa yang akan terjadi dari proses perkembangan psikisnya karena tidak sesuai dengan lingkungan normal seperti teman-teman sebayanya? Kemudian pembelajaran apa yang juga akan berimplikasi pada anak dengan setting social yang seperti itu?

Dalam masa perkembangan terutama diusia pertengahan dan akhir anak-anak, dunia sosioemosional mereka menjadi sangat kompleks, ditandai dengan relasi keluarga, teman sebaya, kehidupan sekolahnya, dan yang paling penting perkembangan moralnya juga diawali pada masa-masa itu.

Sehingga proses hubungan social dengan dunia luar juga tetap harus diperhatikan. Interaksi sosial yang lebih kompleks secara tidak langsung juga lebih mematangkan hubungan social mereka. Banyak gambaran dan pengalaman yang akhirnya disimpan dalam kognisi mereka. Dari situlah kemudian bimbingan dan pengarahan kepada anak dilakukan. Mana yang memang baik dilakukan dan mana yang kemudian harus dijauhi. Sehingga tidak sepantasnya perilaku social mereka dibatasi sebab nantinya kecenderungan terhadap perilaku a sosial bisa saja muncul.

David Elkind (1976) menyebutkan tiga prinsip. Pertama isu penting di dalam pendidikan adalah komunikasi. Menurut teori piaget pikiran anak bukanlah suatu kotak yang kosong sebaliknya anak memiliki sejumlah gagasan tentang dunia fisik dan alamiah, yang berbeda dengan gagasan orang dewasa. Kedua anak selalu tidak mau belajar dan mau belajar kembali lebih lanjut untuk memperoleh pengetahun. Anak-anak datang ke sekolah dengan gagasan-gagasan mereka sendiri tentang ruang, waktu, sebab, jumlah dan angka. Ketiga anak pada dasarnya adalah suatu makhluk yang berpengetahuan yang selalu termotivasi untuk memperoleh pengetahuan. Cara terbaik untuk memelihara motivasi akan pengetahuan ini ialah membiarkan anak untuk secara spontan berinteraksi dengan lingkungan. Pendidikan harus menjamin bahwa pendidikan tidak akan menumpulkan rasa keingintahuan anak dengan menyususn suatu kurikulum yang sagat kaku yang merusak irama dan langkah belajar anak itu sendiri.

Full day school dengan kurikulun yang tentunya berbeda dengan kebanyakan sekolah lain. Desain pembelajaran berpusat pada siswa (student active learning). Fasilitas ruang kelas yang sangat eksklusif, meja kursi, ruang multimedia, komputer, perpustakaan di tiap kelas, dapur, taman penelitian, lapangan dan areal bermain yang layaknya di rumah sendiri memang menjaga anak dari rasa bosan dan jenuh.

Tapi perlu diperhatikan juga bahwa waktu untuk bersosialisasi secara langsung dengan dunia luar juga sangat penting bagi perkembangan social mereka. Sehingga jika memang orang tua masih mempunyai kesempatan bercengkrama dengan anak, dengan tidak hanya disibukkan dengan pekerjaan alangkah baiknya biarkan mereka berkembang secara normal, ada waktu untuk bermain dengan ligkungan sekitarnya, berinteraksi dan belajar dengan tetap mendapatkan pengarahan dan pengawasan.

Karena jika melihat setting social seperti itu, ada berbagai kemungkinan yang akan muncul pertama anak akan menjadi semakin tercerabut dari budaya daerahnya sendiri karena tidak ada waktu lebih untuk berinteraksi dengan lingkungannya kedua bisa menanamkan rasa individual yang semakin tinggi terhadap lingkungan sekitarnya. Ketiga kognitif sosialnya tidak terasah dengan baik karena tidak beragamnya ruang interaksi bagi mereka.

Walaupun nantinya muncul berbagai system pendidikan yang baik bagi anak, dengan berbagai fasilitas yang ditawarkan, tapi bila tidak ada perhatian, pendampingan dan kasih sayang dari orang tua, maka pendidikan itu tetap akan kurang bagi proses perkembangan mereka.

Mahasiswa Psikologi Sosial
Universitas Islam Negeri (UIN) Malang

Iklan

Satu Tanggapan to “Pembelajaran Interaksi Sosial dalam “Full Day School””

  1. mana tulisannya yang lain ya koq ndak ditambahin blognya?

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: