Laila Sa'adah

Transform Your Life

Menjaga Alam Dengan Masyarakat Adat

Posted by laila sa'adah pada Juli 7, 2008

Oleh: Laila Sa’adah

DALAM berbagai buku sejarah seringkali Cristoper Colombus disebut sebagai bapak penemu benua Amerika, digambarkan bahwa dialah yang mulai menginjakkan kaki disana, banyak yang beranggapan bahwa pulau itu kosong dan tidak berpenghuni, sampai kemudian Cristoper Columbus datang. Pertanyaannya kemudian dari mana orang Indian itu muncul? Apakah mereka muncul setelah Cristoper Colombus mendarat disana? Saya kira pertanyaan itu tidak perlu kita jawab, sudah pasti orang-orang Indian adalah komunitas yang memang lebih dulu menempati benua tersebut. Sebagai penduduk lokal memang seringkali keberadaan mereka disingkirkan atau dihapuskan.Nasib seperti itulah yang selalu menimpa masyarakat adat dimanapun mereka berada. Keberadaan mereka seakan-akan hanya dipandang sebelah mata saja. Komunitas adat tidak lebih hanya menjadi sesuatu yang lain dari kita, dengan kehidupan yang serba irasional, kumuh dan kolot. Padahal kita belum melihat, merasakan, secara lebih dalam bagaimana pola kehidupan mereka secara menyeluruh, baik hubungan dengan Tuhan maupun alam yang ada disekitanya.

Saya menjadi teringat dengan sebuah film The Last Samurai yang dimainkan oleh Tome Cruis. Digambarkan bagaimana seseorang yang membawa misi modernisasi bisa hanyut dalam nuansa kehidupan adat, bahkan sampai akhirnya dia rela berkorban jiwa dan raga, untuk ikut berasama-sama berjuang mempertahankan sebuah tradisi. Memang jarang sekali dapat kita temukan orang-orang yang bisa menjiwai kehidupan sebuah masyarakat lokal, seperti yang disampaikan dalam film tersebut di zaman modern seperti ini.

Hikmah apa sebenarnya yang dapat kita pelajari dari pemaparan diatas? Bila kita bercermin terhadap negara kita sendiri, sebenarnya masih banyak penduduk lokal dengan kehidupan adatnya. Masyarakat lokal tersebut kebanyakan di daerah-daerah pedalaman. Dilereng-lereng daerah pegunungan ataupun ditengah-tengah lebatnya hutan kita. Mereka selama ini hidup dari mengandalkan hasil kekayaan alam tersebut, sehingga pantas bila sebenarnya mereka lebih ramah terhadap alam sekitarnya. Mereka lebih tahu terhadap lingkungannya, apa yang harus diperbuat maupun tidak.

Kehidupan Hayati Dan Masyarakat Adat.

PEMBALAKAN liar di hutan Kalimantan yang didalangi oleh para investor asing, seakan-akan dalam hitungan tahun saja hutan-hutan lindung tersebut akan rata dengan tanah. Bila hutan-hutan mulai menipis hal yang paling mudah diprediksi adalah terjadinya bencana alam. Selain itu yang paling penting hilangnya laboratorium alam. Padahal dalam hutan tropis banyak tersimpan ekosistem-ekosistem baik hewani maupun nabati yang sangat fariatif. Kalau hutan lindung sundah mulai tergerus maka kita tidak hanya kehilangan sumber alam namun juga sumber ilmu pengetahuan.

Maka dalam memberantas pembalakan liar di hutan yang sedemikian luas tidak cukup hanya mengandalkan para aparat keamanan, karena melihat medan yang jauh dari akses, dan dengan gaji yang tidak mencukupi maka tidak jarang sebagian dari mereka malah menjadi agen-agen gelap para investor.

Kejahatan yang seperti ini sudah tidak cukup jika hanya ditangani oleh beberapa orang saja atau hanya dengan beberapa instansi, yang seringkali lemah mentalnya dengan iming-iming material. Kejahatan ini harus ditangani secara bersama-sama dan secara menyeluruh.

Bila selama ini masyarakat adat sering diabaikan keberadaannya oleh pemerintah, maka sudah saatnya mereka juga turut kita ajak bersama-sama untuk menjaga hutan yang telah menjadi rumah bagi mereka. Karena seperti yang telah diungkapkan diatas, bahwa dengan kehidupannya yang masih alami dan jauh dari modernisasi, menjadikan sebuah komunitas adat lebih tahu bagaimana harus mengelola alamnya. Kalaupun mereka menebang pohon, tidak lebih hanya untuk membuka ladang dan tentunya sudah dengan perhitungan dan pridiksi adat yang tidak akan merugikan hutan. Tetapi lain lagi dengan kebutuhan para investor yang tidak akan cukup dengan beratus-ratus potong pohon saja, tetapi mungkin sampai beribu-ribu potong pohon juga tidak akan pernah cukup bagi mereka.

Sudah mulai para pemuka adat kita fungsikan. Bila membuat kebijakan-kebijakan baru atas keadaan alam mereka, pemerintah sebelumnya juga harus membuat pertimbangan bersama para pemuka adat.

Memang sangat sulit ketika kita menindak pembalakan liar ketika banyak oknumnya sendiri yang melakukan. Sudah saatnya penanganan kasus ini ditangani secara bersama-sama. Agar terdapat kesepakatan bersama yang jelas, maka harus dirumuskan antara pemuka adat dengan pemerintah daerah. Tentunya kesepakatan ini tanpa ada satu pihak yang berniat merugikan atau sebaliknya.

Sekali lagi yang lebih tahu dunianya adalah orang-orang yang tinggal lebih lama didalamnya, bukan atas suara para peneliti yang hanya dalam hitungan waktu data itu muncul dan seringkali tanpa memperhatikan akibat yang akan terjadi. Berilah suara untuk para penduduk setempat untuk mempertahankan alamnya, karena itulah sebenarnya kemakmuran yang dapat diartikan oleh mereka. Ketika alam itu tetap ada, dan membawa kemaslahatan bagi semuanya. Tentunya upaya-upaya apapun harus tetap dilakukan untuk mempertahankan sumber alam, kehidupan hayati dan hutan itu sendiri.

Iklan

3 Tanggapan to “Menjaga Alam Dengan Masyarakat Adat”

  1. Manusia dengan nalar modernnya seringkali melihat alam sebagai barang taklukkan.

    Ia harus ditundukkan. Ia harus dikuras sebanyak-banyaknya. Manusia olehkarena itu perlu untuk memerkosa dan mengangkangi alam, untuk membuktikan dirinya perkasa. Menguasai, kemudian berseger tidak lagi menjadi hasrat alamiah kemanusiaan. Tetapi juga karena tuntutan pada akumulasi modal.

    Kita di kemudian hari melihat bagaimana kelakuan-kelakuan drakula-drakula penghisap darah itu…

    Oh iya, numpang lewat non..

    Tabik,

    AAR.

  2. laila sa'adah said

    trims udah berkunjung disini

    Bener mas apa yang sampeyan katakan adalah penyakitnya orang-orang moderen. Hingga kini tinggalan pengetahuan moderen ini telah membentuk normativitas yang pro terhadap status quo.
    dengan demikian alam yang sebenarnya harus di jaga, akan tetapi atas nama kebenaran alam mulai dicampakkan oleh manusia
    salam

  3. heruyaheru said

    menghormati adat dan hak adat itu sangat penting, tapi kadang banyak yang lupa tentang konservasi adat bisa jadi justru merugikan orang adat itu sendiri. itulah yang disebut dengan minoritisasi kaum minoritas.salam kenal…

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: