<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	xmlns:georss="http://www.georss.org/georss" xmlns:geo="http://www.w3.org/2003/01/geo/wgs84_pos#" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/"
	>

<channel>
	<title>Laila Sa&#039;adah</title>
	<atom:link href="http://apikdw.wordpress.com/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://apikdw.wordpress.com</link>
	<description>Transform Your Life</description>
	<lastBuildDate>Sat, 25 Jul 2009 05:33:31 +0000</lastBuildDate>
	<language>id</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.com/</generator>
<cloud domain='apikdw.wordpress.com' port='80' path='/?rsscloud=notify' registerProcedure='' protocol='http-post' />
<image>
		<url>http://s2.wp.com/i/buttonw-com.png</url>
		<title>Laila Sa&#039;adah</title>
		<link>http://apikdw.wordpress.com</link>
	</image>
	<atom:link rel="search" type="application/opensearchdescription+xml" href="http://apikdw.wordpress.com/osd.xml" title="Laila Sa&#039;adah" />
	<atom:link rel='hub' href='http://apikdw.wordpress.com/?pushpress=hub'/>
		<item>
		<title>AKU PEREMPUAN</title>
		<link>http://apikdw.wordpress.com/2009/07/25/aku-perempuan/</link>
		<comments>http://apikdw.wordpress.com/2009/07/25/aku-perempuan/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 25 Jul 2009 05:33:31 +0000</pubDate>
		<dc:creator>laila sa'adah</dc:creator>
				<category><![CDATA[My Poem]]></category>
		<category><![CDATA[perempuan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://apikdw.wordpress.com/?p=30</guid>
		<description><![CDATA[Oleh: Del Lila Patutkah aku benci menjadi perempuan karena budayaku, Aku benci menjadi perempuan karena praktek agamaku Aku benci menjadi perempuan karena ilmu yang telah kumiliki Aku benci menjadi perempuan karena pengetahuanku, Karena kebebasan itu sendiri, Aku benci menjadi perempuan……patutkah? Perempuan dalam kubangan, yang tak tahu harus dari mana diangkat, dari sudut mana didekati, dari [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=apikdw.wordpress.com&amp;blog=4092828&amp;post=30&amp;subd=apikdw&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Oleh: Del Lila</p>
<p>Patutkah aku benci menjadi perempuan karena budayaku,<br />
Aku benci menjadi perempuan karena praktek agamaku<br />
Aku benci menjadi perempuan karena ilmu yang telah kumiliki<br />
Aku benci menjadi perempuan karena pengetahuanku,<br />
Karena kebebasan itu sendiri,<br />
Aku benci menjadi perempuan……patutkah?<br />
Perempuan dalam kubangan, yang tak tahu harus dari mana diangkat, dari sudut mana didekati, dari sisi mana dilihat. Fisiknya belum tentu, psikisnya tidak juga, pikiran juga tidak bisa dijadikan patokan, karena dia bukan victim yang sebenarnya.</p>
<p>Lebih baikkah perempuan dibuat pintar ketika akhirnya harus dibodohi, akan sakit hatinya<br />
Dibuat berani juga tak berarti ketika akhirnya dikungkung pada buih nasibmu, hatinya menangis<br />
Teriakan semangatmu apakah tidak memberikan dendam kusumat&#8230;.</p>
<p>Jangan kau bukakan jalan bagi kami karena kami bisa menembus dengan jalan kita sendiri….<br />
Teruskan perjuanganmu kaum perempuan-perempuan yang tak pernah lelah dalam memperjuangkan apapun, politik, ilmu pengetahuan, ekonomi, atau hanya untuk sesuap nasi bagi anakmu…….<br />
Hanya kamu yang tahu, hanya dirimu yang tahu akan jalanmu, nasibmu atas arti sebuah perjuangan bagi dirimu dan kaummu.</p>
<p>Kediri, 21 Mei 2008</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/apikdw.wordpress.com/30/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/apikdw.wordpress.com/30/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/apikdw.wordpress.com/30/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/apikdw.wordpress.com/30/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/apikdw.wordpress.com/30/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/apikdw.wordpress.com/30/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/apikdw.wordpress.com/30/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/apikdw.wordpress.com/30/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/apikdw.wordpress.com/30/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/apikdw.wordpress.com/30/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/apikdw.wordpress.com/30/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/apikdw.wordpress.com/30/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/apikdw.wordpress.com/30/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/apikdw.wordpress.com/30/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=apikdw.wordpress.com&amp;blog=4092828&amp;post=30&amp;subd=apikdw&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://apikdw.wordpress.com/2009/07/25/aku-perempuan/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/c9d7b9689c31889c290149f9cc3079e9?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">apikdw</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>GANG MAKAM</title>
		<link>http://apikdw.wordpress.com/2009/07/25/gang-makam/</link>
		<comments>http://apikdw.wordpress.com/2009/07/25/gang-makam/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 25 Jul 2009 05:10:02 +0000</pubDate>
		<dc:creator>laila sa'adah</dc:creator>
				<category><![CDATA[Kumpulan Cerpenku]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://apikdw.wordpress.com/?p=24</guid>
		<description><![CDATA[Oleh : U. Laila Sa’adah Bintang berkedip-kedip bersama cahanya bulan yang terlihat temaram malam ini, awan gelap memang tak henti-hentinya melintas untuk menghapus jejak meraka. Malam ini terlihat sangat gelap, awan hitam dari tadi berusaha menguasai langit. Tidak hanya bintang dan bulan yang kalah, aku sendiri bertambah takut, bagaimana kalau giliranku belum datang hujan sudah [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=apikdw.wordpress.com&amp;blog=4092828&amp;post=24&amp;subd=apikdw&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://lh4.ggpht.com/arifgator/RfJl3O6FGzI/AAAAAAAAAB4/HtZYn_SKdt4/bojonegoro_taman_makam_pahlawan.jpg"><img class="alignright size-full wp-image-27" title="coba" src="http://apikdw.files.wordpress.com/2009/07/coba.jpg" alt="coba" width="150" height="113" /></a>Oleh : U. Laila Sa’adah</p>
<p>Bintang berkedip-kedip bersama cahanya bulan yang terlihat temaram malam ini, awan gelap memang tak henti-hentinya melintas untuk menghapus jejak meraka. Malam ini terlihat sangat gelap, awan hitam dari tadi berusaha menguasai langit. Tidak hanya bintang dan bulan yang kalah, aku sendiri bertambah takut, bagaimana kalau giliranku belum datang hujan sudah turun.</p>
<p>Bisa ditaksir Anton pasti sangat lama sorogan ke pak ustadz. Sedangkan setelah Anton masih ada Pai, dan Ruri, masih tiga orang lagi semoga saja air yang dibawa awan-awan itu tidak segera ingin turun. Aku masih menatap langit di serambi depan langgar.</p>
<p>“Man masih lama ya?”<br />
Tiba-tiba Andi duduk di sampingku.<br />
“iyo, itu lihat masih ada Pai ma Ruri di belakang Anton, mengko tunggu aku yo, mosok aku muleh dewe”<br />
“Santai Wae, sekalian nunggu Anton tho”</p>
<p>Aku hanya menundukkan kepala tanpa semangat.</p>
<p>Kita bertiga Anton, aku sama Andi memang seringkali pulang pergi berang untuk ngaji di langgar. Sebenarnya tidak ada kesepakatan atau perjanjian yang mengharuskan kita untuk berangkat atau pulang bareng. Atau ikatan persahabatan yang kuat sehingga Andi mau menunggu Anton atau aku untuk pulang bareng dari ngaji di langgar. Karena dikatakan sahabat kita juga bukan tiga serangkai yang sangat akrab, kita tidak pernah bermain bersama, apalagi mengerjakan tugas bersama seperti layaknya hubungan persahabatan.<br />
Bahkan seringkali kita bertengkar hanya karena berebut barisan siapa yang harus di depan dan siapa yang di belakang, untuk melewati gang makam agar cepat sampai di rumah kami bertiga. Sekolah kami juga tidak sama, Anton yang dari keluarga berada lebih memilih ke sekolah unggulan dan mahal. Andi yang dari keluarga sederhana dan bisa dikatakan mampu memilih sekolah dekat dengan tempat bekerja ayahnya di pabrik rokok agar bisa sekalian berangkat dan pergi bersama.</p>
<p>Sedangkan bapakku hanya tukang becak yang tak tamat sekolah STM, hanya mampu menyekolah kan aku di sekitar desa kami saja.<br />
Walaupun dikatakan ndeso tapi aku sudah merasa beruntung, karena selain sekolahannya dekat, dapat dijangkau dengan jalan kaki, juga tidak aneh-aneh, ada tarikan ini itulah atau masalah jam belajar yang terlampau lama. Aku jam 12 sudah pulang sekolah, bisa membantu mamak, ajak main adik, dan bermain-main sama teman sekolahku di lapangan.</p>
<p>Berbeda dengan Andi sama Anton mereka masih harus mengikuti les, sekolah mereka seperti trend sekolah saat ini full day school. Maka tidak ada deh waktu bermain bareng sama teman sebaya di sekitar rumah, liburan saja mereka ada kegiatan.</p>
<p>Belum lagi yang kadang aku dengar dari cerita mereka ketika di sekolah, ada tarikan uang kesehatan, laboratorium, pengembangan bahasa dan masih banyak ini dan itu. Yah memang  sekolah mereka di kota sih dengan fasilitas yang sangat bisa mendukung muridnya menjadi yang katanya bisa lebih pintar dan nilai yang memuaskan.</p>
<p>Kami hanya bertemu ketika mau berangkat ke langgar. Langgar tempat kami mengaji memang bisa dikatakan dekat dengan rumah. Hanya berjarak satu gang depan dari rumah kami, tetapi walaupun satu gang kami harus melewati makam umum warga. Sebenarnya terdapat jalan tanpa kita harus melewati gang makam, tetapi sangat jauh, harus memutar ke jalan utama desa yang bisa berjarak 3 km. Kalau melalui gang tidak ada 5 menit jalan kaki sudah nyampe deh.</p>
<p>Awalnya mereka berdua ketika pulang dari langgar habis isya’ di jemput oleh ayahnya tetapi seringkali mereka tidak dijemput akhirnya kami bertiga pulang sama-sama. Aku sendiri sebenarnya penakut, tetapi menjadi sangat berani karena tidak ada pilihan lain. Bapakku kadang pergi membecak dari pagi sampai malam, kalau aku takut tidak jadi berangkat ngaji dong. Kalau sampai terpaksa aku menunggu penjual bakso Sri Rejeki lewat makam. Menunggu di langgar sampai tukang bakso lewat dan pergi sama-sama deh.</p>
<p>Tapi lebih seringnya aku menjadi peserta lomba lari, dengan memulai membaca lafadz bismillahirrohmanirrohim, jantung mulai berpacu dengan keras dan aku berlari kencang tanpa menoleh ke kanan kiri. Sampai bagaimana caranya aku tidak bisa melihat andaikan ada orang di sepanjang gang yang aku lewati. Aku takutnya itu bukan orang sungguhan, itu hanya hantu cantik yang ingin menggodaku.</p>
<p>Aku tidak pernah menghitung waktu kecepatanku ketika berlari. Tetapi yang penting cepat sampai dengan selamat. Masih banyak orang-orang di desaku yang tiba-tiba menghilang ketika kelur rumah sore hari, katanya sich dibawa oleh gendruwo hiiii&#8230;.<br />
Akhirnya giliranku datang, dengan suara lantang aku memulai membaca Al-Qur’an, angudzubillahiminassyaitonirrojiim, bismillahirrohmanirrokhiim&#8230;&#8230;&#8230;..</p>
<p>*      *     *<span id="more-24"></span></p>
<p>“Ayo&#8230;&#8230;&#8230;.”<br />
“Homgambreng”<br />
Ternyata semua sama-sama menjulurkan telapak tangan<br />
“Gambreng”<br />
Belum ada yang berbeda<br />
“Gambreng”<br />
Dan terlihat tangan anton membalik telapaknya, sedangkan aku sama andi sama-sama punggung tangan.<br />
Akhirnya aku sama Andi suit. Andi deh yang menang dan akhirnya malam ini aku dalam barisan terakhir. Memang gang sangat sempit, sehingga kita tidak bisa berbaris berbanjar bertiga, tetapi harus satu-satu, sebenarnya kalau warga mau kerja bakti membangun jalan, gang makam bisa agak luas karena sisinya hanya terhalang rumput yang makin lama makin melebar sehingga sisa jalan makin menyempit.<br />
Kami berdoa bersama sebelum berlari<br />
“Kamu nanti lari yang cepat ya Ton biar aku juga bisa berlari cepat”<br />
“Ok, bro”<br />
“Satu, dua, tiga&#8230;&#8230;.”<br />
Kami berlari kencang, tapi tiba-tiba anton berhenti berlari aku sama Andi jadi menubruk Anton deh&#8230;<br />
“Aduh, aduh&#8230;&#8230;.”<br />
“Kamu dak apa-apa Ton?”<br />
Ndak apa-apa”<br />
”Kenapa kamu berhenti tho Ton.”<br />
Itu lho ada bayangan di depan, kuning-kuning, dan kayaknya ada orang di belakangnya.<br />
Aku tiba-tiba terdiam sesaat, berdetak keras jantung ini<br />
“thok&#8230;.thok&#8230;&#8230;..thok&#8230;..thok”<br />
“Wah itu suara tukang bakso, bukan hantu. Itu bakso Sri Rejeki yang biasanya aku jadikan teman ketika pulang sendiri”<br />
“Huh, tak kirain apa”<br />
“Ayo cepat ke sana aku sudah merinding nih”<br />
Kami lalu berjalan agak sedikit berlari, ternyata dugaan kami benar, mas Budiman penjual bakso.<br />
“Mas jam segeni koq sudah lewat sih, biasanya kan baru setengah jam lagi”<br />
“Lagi sepi man”<br />
“Ooo&#8230;&#8230;..tadi kita sempat kaget liat sampean dari belakang mas, takutnya hantu”<br />
“Ah mana ada hantunya, hantunya takut gangguin anak-anak yang pulang ngaji”<br />
“Masak sih mas&#8230;&#8230;hiii ayo cepat mas bawa gerobagnya&#8230;.”</p>
<p>*     *     *</p>
<p>Pulang sekolah aku melihat becak bapak masih ada di samping rumah<br />
“Assalamu’alaikuuum”<br />
“Wa’alaikumsalam, jangan keras-keras tho le kalau salam. Pulang sekolah ganti dulu bajunya jangan langsung main”<br />
“Ok mamak, becak bapak koq masih ada mak”<br />
“Iyo bapakmu lagi nglayat, mangkane gak narik becak”<br />
“Lho sopo seng ninggal”<br />
“Pak Bejo, ninggale jam 9”<br />
Sejenak aku terdiam di dalam kamar, belum sempat aku mengganti pakaianku.<br />
“Le kalau mau makan, lauknya ada di lemari, le&#8230;?”<br />
Mamak memasuki kamar melihat diriku yang sedang melamun.<br />
“Ealah koq nglamun, ikolho lek arep mangan lawue neng mejo”<br />
Aku hanya menganggukkan kepala. Aku membayangkan bagaimana nanti aku berangkat mengaji, belum lagi pulangnya, kalau tiba-tiba aku dihadang dimintai bareng pulang ke rumah gimana, karena biasanya pak Bejo memang sering aku antar pulang ketika selesai sholat Jum’at di masjid depan hiiii.<br />
“Maaak mamak di mana, temani Lukman makan dulu mak”<br />
Langsung aku keluar kamar tanpa sempat berganti pakaian.</p>
<p>*      *     *</p>
<p>“Bapak pokoknya harus membelikan Lukman sepeda, Lukman tidak mau lewat gang makam lagi, Lukman butuh sepeda buat pergi ke langgar. Lukman dari dulu tidak pernah minta mainan yang aneh-aneh, sekarang Lukman minta sepeda buat ngaji pak.”<br />
Sambil merengek disamping bapak yang sedang merokok di beranda rumah. Setelah dari makam bapak memutuskan tidak narik becak, katanya sekalian nanti malam saja.<br />
“Iyo tak belikan tapi tidak sekarang atau besok ya le”<br />
“Terus Lukman nanti berangkatnya gimana, Lukman takut lewat gang makam nanti pak Bejo manggil-manggil”<br />
“Le pak Bejo iku wong apik, matine ora bakal ngedeni bocah, wong wes mati mosok tangi maneh, kakehan nonton TV”<br />
“Pokoe kalau tidak ada sepeda Lukman tidak ngaji”<br />
“Loh malah ora ngaji, mengko tambah diparani pak Bejo.”<br />
“Paaak&#8230;.?”<br />
Saking merasa takutnya aku mau meneteskan air mata<br />
“Iyo mengko bapak anter ke langgar naik becak, pulangnya juga, bapak narik nanti setelah kamu pulang dari langgar, guyu disik mosok nangis”<br />
Ku coba tersenyum. Aku memang tidak mau sehari saja tidak mengaji, karena selain ketinggalan nanti aku juga hafalannya tambah banyak.</p>
<p>*     *     *</p>
<p>Sudah dua hari aku tidak masuk, Anton sama Andi kayaknya juga tidak masuk. Pasti hafalanku nanti tambah banyak. Dalam hati pokoknya sepeda. Setiap bapak pulang dari narik aku selalu mengingatkan bapak. Bapak bilangnya tetap “iya bapak belikan” tapi kapan.<br />
Hari ini pulang pagi, biasa ibu dan bapak guru sedang ada rapat.<br />
Belum sampai 5 meter aku keluar dari gerbang sekolah, ada rame-rame dari belakang, aku lihat ada pandoso. Hah ada orang meninggal lagi, langsung aku masuk ke halaman orang. Aku bersembunyi di bawah pohon luntas. Terasa cepat sekali mereka lewat, aku tunggu agak lama sebelum keluar dari persembunyian agar tidak melihat pandoso. Setelah agak lama aku baru keluar, ku lihat masih ada sisa-sisa orang pelayat, ada seorang ibu muda di sampingnya kedua anaknya dirangkul sambil berjalan. Terlihat matanya masih sembab, dan kadang juga masih mengeluarkan air mata. Anak yang agak besar hanya menundukkan kepala. Ada beberapa perempuan yang menemani. Apa mungkin itu istrinya yang meninggal tadi.<br />
Aku berjalan di belakangnya. Aku ikut berjalan perlahan seperti mereka.<br />
Sampai di persimpangan jalan aku berbelok dan berlari kencang, seakan aku ingin sampai di rumah, aku berlari kencang sekencang-kencangnya seperti ketika aku lewat gang makam.<br />
“Mak bapak sudah pergi belum”<br />
“Itu baru siap-siap mau narik, ono opo to le, pulang sekolah kayak dikejar hantu, tidak salam lagi”<br />
Tidak aku hiraukan kata-kata mamak, ku cari bapak dan aku bilang sambil masih terengah-engah<br />
“Pak tidak usah dibelikan sepeda, biar Lukman tetap lewat gang makam saja”<br />
Bapak masih diam saja dan aku langsung pergi ke kamar ganti baju. Sesaat aku teringat wajah anak kecil tadi. Dalam hati biarlah aku tidak punya sepeda asalkan masih punya bapak.</p>
<p>*     *     *</p>
<p>Di mulai dengan basmalah dan kekuatan penuh aku berlari kencang, dengan menghilangkan bayangan pak Bejo, maupun buruh bangunan yang baru meninggal karena kecelakaan kerja dan meninggalkan anak dan istrinya. Aku bersyukur karena masih mempunyai bapak  Dalam hati aku hanya berdoa semoga ilmuku tetap bermanfaat walau setiap hari aku berlari &#8211; lari sepulang dari mengaji&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;., terdengar suara “thok&#8230;.thok&#8230;..thok” dan aku menoleh&#8230;&#8230;&#8230;</p>
<p>Kediri, 5 Februari 2009</p>
<p>Langgar : Mushola kecil/ surau<br />
Pandoso : Tempat yang digunakan untuk mengangkat orang meninggal menuju makam<br />
Le kepanjangan dari thole : Sebutan untuk memanggil anak laki-laki<br />
Nglayat : Melayat</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/apikdw.wordpress.com/24/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/apikdw.wordpress.com/24/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/apikdw.wordpress.com/24/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/apikdw.wordpress.com/24/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/apikdw.wordpress.com/24/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/apikdw.wordpress.com/24/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/apikdw.wordpress.com/24/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/apikdw.wordpress.com/24/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/apikdw.wordpress.com/24/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/apikdw.wordpress.com/24/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/apikdw.wordpress.com/24/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/apikdw.wordpress.com/24/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/apikdw.wordpress.com/24/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/apikdw.wordpress.com/24/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=apikdw.wordpress.com&amp;blog=4092828&amp;post=24&amp;subd=apikdw&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://apikdw.wordpress.com/2009/07/25/gang-makam/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/c9d7b9689c31889c290149f9cc3079e9?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">apikdw</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://apikdw.files.wordpress.com/2009/07/coba.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">coba</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Menjaga Alam Dengan Masyarakat Adat</title>
		<link>http://apikdw.wordpress.com/2008/07/07/menjaga-alam-dengan-masyarakat-adat/</link>
		<comments>http://apikdw.wordpress.com/2008/07/07/menjaga-alam-dengan-masyarakat-adat/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 07 Jul 2008 21:16:37 +0000</pubDate>
		<dc:creator>laila sa'adah</dc:creator>
				<category><![CDATA[Opini]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://apikdw.wordpress.com/?p=21</guid>
		<description><![CDATA[Oleh: Laila Sa’adah DALAM berbagai buku sejarah seringkali Cristoper Colombus disebut sebagai bapak penemu benua Amerika, digambarkan bahwa dialah yang mulai menginjakkan kaki disana, banyak yang beranggapan bahwa pulau itu kosong dan tidak berpenghuni, sampai kemudian Cristoper Columbus datang. Pertanyaannya kemudian dari mana orang Indian itu muncul? Apakah mereka muncul setelah Cristoper Colombus mendarat disana? [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=apikdw.wordpress.com&amp;blog=4092828&amp;post=21&amp;subd=apikdw&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://apikdw.files.wordpress.com/2008/07/alam-adat.jpg"><img class="alignleft size-full wp-image-22" src="http://apikdw.files.wordpress.com/2008/07/alam-adat.jpg" alt="" width="137" height="103" /></a>Oleh: Laila Sa’adah</p>
<p>DALAM berbagai buku sejarah seringkali Cristoper Colombus disebut sebagai bapak penemu benua Amerika, digambarkan bahwa dialah yang mulai menginjakkan kaki disana, banyak yang beranggapan bahwa pulau itu kosong dan tidak berpenghuni, sampai kemudian Cristoper Columbus datang. Pertanyaannya kemudian dari mana orang Indian itu muncul? Apakah mereka muncul setelah Cristoper Colombus mendarat disana? Saya kira pertanyaan itu tidak perlu kita jawab, sudah pasti orang-orang Indian adalah komunitas yang memang lebih dulu menempati benua tersebut. Sebagai penduduk lokal memang seringkali keberadaan mereka disingkirkan atau dihapuskan.<span id="more-21"></span>Nasib seperti itulah yang selalu menimpa masyarakat adat dimanapun mereka berada. Keberadaan mereka seakan-akan hanya dipandang sebelah mata saja. Komunitas adat tidak lebih hanya menjadi sesuatu yang lain dari kita, dengan kehidupan yang serba irasional, kumuh dan kolot. Padahal kita belum melihat, merasakan, secara lebih dalam bagaimana pola kehidupan mereka secara menyeluruh, baik hubungan dengan Tuhan maupun alam yang ada disekitanya.</p>
<p>Saya menjadi teringat dengan sebuah film The Last Samurai yang dimainkan oleh Tome Cruis. Digambarkan bagaimana seseorang yang membawa misi modernisasi bisa hanyut dalam nuansa kehidupan adat, bahkan sampai akhirnya dia rela berkorban jiwa dan raga, untuk ikut berasama-sama berjuang mempertahankan sebuah tradisi. Memang jarang sekali dapat kita temukan orang-orang yang bisa menjiwai kehidupan sebuah masyarakat lokal, seperti yang disampaikan dalam film tersebut di zaman modern seperti ini.</p>
<p>Hikmah apa sebenarnya yang dapat kita pelajari dari pemaparan diatas? Bila kita bercermin terhadap negara kita sendiri, sebenarnya masih banyak penduduk lokal dengan kehidupan adatnya. Masyarakat lokal tersebut kebanyakan di daerah-daerah pedalaman. Dilereng-lereng daerah pegunungan ataupun ditengah-tengah lebatnya hutan kita. Mereka selama ini hidup dari mengandalkan hasil kekayaan alam tersebut, sehingga pantas bila sebenarnya mereka lebih ramah terhadap alam sekitarnya. Mereka lebih tahu terhadap lingkungannya, apa yang harus diperbuat maupun tidak.</p>
<p>Kehidupan Hayati Dan Masyarakat Adat.</p>
<p>PEMBALAKAN liar di hutan Kalimantan yang didalangi oleh para investor asing, seakan-akan dalam hitungan tahun saja hutan-hutan lindung tersebut akan rata dengan tanah. Bila hutan-hutan mulai menipis hal yang paling mudah diprediksi adalah terjadinya bencana alam. Selain itu yang paling penting hilangnya laboratorium alam. Padahal dalam hutan tropis banyak tersimpan ekosistem-ekosistem baik hewani maupun nabati yang sangat fariatif. Kalau hutan lindung sundah mulai tergerus maka kita tidak hanya kehilangan sumber alam namun juga sumber ilmu pengetahuan.</p>
<p>Maka dalam memberantas pembalakan liar di hutan yang sedemikian luas tidak cukup hanya mengandalkan para aparat keamanan, karena melihat medan yang jauh dari akses, dan dengan gaji yang tidak mencukupi maka tidak jarang sebagian dari mereka malah menjadi agen-agen gelap para investor.</p>
<p>Kejahatan yang seperti ini sudah tidak cukup jika hanya ditangani oleh beberapa orang saja atau hanya dengan beberapa instansi, yang seringkali lemah mentalnya dengan iming-iming material. Kejahatan ini harus ditangani secara bersama-sama dan secara menyeluruh.</p>
<p>Bila selama ini masyarakat adat sering diabaikan keberadaannya oleh pemerintah, maka sudah saatnya mereka juga turut kita ajak bersama-sama untuk menjaga hutan yang telah menjadi rumah bagi mereka. Karena seperti yang telah diungkapkan diatas, bahwa dengan kehidupannya yang masih alami dan jauh dari modernisasi, menjadikan sebuah komunitas adat lebih tahu bagaimana harus mengelola alamnya. Kalaupun mereka menebang pohon, tidak lebih hanya untuk membuka ladang dan tentunya sudah dengan perhitungan dan pridiksi adat yang tidak akan merugikan hutan. Tetapi lain lagi dengan kebutuhan para investor yang tidak akan cukup dengan beratus-ratus potong pohon saja, tetapi mungkin sampai beribu-ribu potong pohon juga tidak akan pernah cukup bagi mereka.</p>
<p>Sudah mulai para pemuka adat kita fungsikan. Bila membuat kebijakan-kebijakan baru atas keadaan alam mereka, pemerintah sebelumnya juga harus membuat pertimbangan bersama para pemuka adat.</p>
<p>Memang sangat sulit ketika kita menindak pembalakan liar ketika banyak oknumnya sendiri yang melakukan. Sudah saatnya penanganan kasus ini ditangani secara bersama-sama. Agar terdapat kesepakatan bersama yang jelas, maka harus dirumuskan antara pemuka adat dengan pemerintah daerah. Tentunya kesepakatan ini tanpa ada satu pihak yang berniat merugikan atau sebaliknya.</p>
<p>Sekali lagi yang lebih tahu dunianya adalah orang-orang yang tinggal lebih lama didalamnya, bukan atas suara para peneliti yang hanya dalam hitungan waktu data itu muncul dan seringkali tanpa memperhatikan akibat yang akan terjadi. Berilah suara untuk para penduduk setempat untuk mempertahankan alamnya, karena itulah sebenarnya kemakmuran yang dapat diartikan oleh mereka. Ketika alam itu tetap ada, dan membawa kemaslahatan bagi semuanya. Tentunya upaya-upaya apapun harus tetap dilakukan untuk mempertahankan sumber alam, kehidupan hayati dan hutan itu sendiri.</p>
<br /><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/apikdw.wordpress.com/21/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/apikdw.wordpress.com/21/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/apikdw.wordpress.com/21/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/apikdw.wordpress.com/21/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/apikdw.wordpress.com/21/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/apikdw.wordpress.com/21/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/apikdw.wordpress.com/21/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/apikdw.wordpress.com/21/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/apikdw.wordpress.com/21/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/apikdw.wordpress.com/21/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/apikdw.wordpress.com/21/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/apikdw.wordpress.com/21/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/apikdw.wordpress.com/21/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/apikdw.wordpress.com/21/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/apikdw.wordpress.com/21/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/apikdw.wordpress.com/21/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=apikdw.wordpress.com&amp;blog=4092828&amp;post=21&amp;subd=apikdw&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://apikdw.wordpress.com/2008/07/07/menjaga-alam-dengan-masyarakat-adat/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>3</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/c9d7b9689c31889c290149f9cc3079e9?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">apikdw</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://apikdw.files.wordpress.com/2008/07/alam-adat.jpg" medium="image" />
	</item>
		<item>
		<title>Ujian Nasional dan Tujuan Pendidikan</title>
		<link>http://apikdw.wordpress.com/2008/07/07/ujian-nasional-dan-tujuan-pendidikan/</link>
		<comments>http://apikdw.wordpress.com/2008/07/07/ujian-nasional-dan-tujuan-pendidikan/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 07 Jul 2008 21:13:53 +0000</pubDate>
		<dc:creator>laila sa'adah</dc:creator>
				<category><![CDATA[Opini]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://apikdw.wordpress.com/?p=19</guid>
		<description><![CDATA[Oleh: U. Laila Sa’adah. Kamis, 27 Maret 2008 SINDO memuat ulasan mengenai uji coba UN (Ujian Nasional) yang hasilnya jeblok. Walapun uji coba tersebut hanya dalam kawasan daerah Surabaya namun nampaknya sudah cukup mewakili keluhan akan kebijakan UN terbaru yang menambah jumlah mata pelajaran yang diujikan. Dari data Dinas Pendidikan Surabaya menunjukkan bahwa 71,03% siswa [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=apikdw.wordpress.com&amp;blog=4092828&amp;post=19&amp;subd=apikdw&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://apikdw.files.wordpress.com/2008/07/ujian-nasional.jpg"><img class="alignleft size-full wp-image-20" src="http://apikdw.files.wordpress.com/2008/07/ujian-nasional.jpg" alt="" width="150" height="113" /></a>Oleh: U. Laila Sa’adah.</p>
<p>Kamis, 27 Maret 2008 SINDO memuat ulasan mengenai uji coba UN (Ujian Nasional) yang hasilnya jeblok. Walapun uji coba tersebut hanya dalam kawasan daerah Surabaya namun nampaknya sudah cukup mewakili keluhan akan kebijakan UN terbaru yang menambah jumlah mata pelajaran yang diujikan. Dari data Dinas Pendidikan  Surabaya menunjukkan bahwa 71,03% siswa SMA bidang IPA gagal dalam uji coba, kemudian 1.813 siswa bidang IPS diantaranya tidak lulus, dan bidang bahasa dari 117 siswa, 56 diantaranya dinyatakan gagal.<span id="more-19"></span>Merujuk pada tujuan diadakannya ujian, sebenarnya merupakan proses untuk evaluasi dari kegiatan belajar mengajar yang telah dilampaui. Sehingga dari hasil ujian tersebut dapat dijadikan dasar untuk mengadakan tindak lanjut terhadap proses belajar mengajar selanjutnya. Begitu juga ketika UN dilaksanakan, hasilnya dapat memberikan pandangan akan kondisi pendidikan yang sebelumnya dijalankan. Adakah nantinya ada koreksi, pertimbangan mengenai kebijakan-kebijakan pendidikan dan yang lainnya.</p>
<p>Agar UN tidak semata-mata hanya sebagai ajang pemaksaan terhadap peserta didik untuk memenuhi standar yang dianggap dapat memenuhi kualitas pendidikan. Maka sebenarnya perlu dilihat ulang tujuan diadakannya UN itu, apakah sudah sesuai dengan tujuan pendidikan yang sebenarnya.</p>
<p>Pada dasarnya hasil pendidikan bukanlah sesuatu yang dihasilkan dari sesuatu yang instan, namun merupakan hasil dari suatu proses yang panjang. Maka tidak cukup bijak ketika penilaian selama pendidikan akhirnya mengabaikan dari proses yang telah dilalui.</p>
<p>Melihat dari negara Firlandia sebagai negara dengan kualitas pendidikan nomor satu di dunia, memang masih menetapkan keberadaan UN. Namun disana UN tidak diikuti oleh semua siswa. Para siswa dipilih secara acak dari sekolahan masing-masing dan hasilnya tidak dijadikan rujukan untuk menentukan kelulusan. Hasil UN hanya dijadikan rujukan untuk membuat kebijakan pendidikan selanjutnya.</p>
<p>Selama ini permasalahan UN memang masih sering menimbulkan kontroversi dari berbagai pihak, dengan argumennya masing-masing. Tetapi paling tidak yang perlu kita garis bawahi pertama apakah dilaksanakannya UN sekarang memang sudah sesuai dengan tujuan pendidikan yang ingin dicapai. Yang kedua UN memang tidak perlu dihapuskan tetapi bagaimana bisa lebih bersifat fleksibel dan menghargai dari sebuah proses pembelajaran. Nampaknya bangsa kita masih perlu banyak belajar dari negara lain untuk mengembangkan dunia pendidikan.</p>
<br /><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/apikdw.wordpress.com/19/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/apikdw.wordpress.com/19/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/apikdw.wordpress.com/19/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/apikdw.wordpress.com/19/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/apikdw.wordpress.com/19/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/apikdw.wordpress.com/19/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/apikdw.wordpress.com/19/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/apikdw.wordpress.com/19/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/apikdw.wordpress.com/19/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/apikdw.wordpress.com/19/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/apikdw.wordpress.com/19/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/apikdw.wordpress.com/19/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/apikdw.wordpress.com/19/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/apikdw.wordpress.com/19/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/apikdw.wordpress.com/19/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/apikdw.wordpress.com/19/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=apikdw.wordpress.com&amp;blog=4092828&amp;post=19&amp;subd=apikdw&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://apikdw.wordpress.com/2008/07/07/ujian-nasional-dan-tujuan-pendidikan/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>5</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/c9d7b9689c31889c290149f9cc3079e9?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">apikdw</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://apikdw.files.wordpress.com/2008/07/ujian-nasional.jpg" medium="image" />
	</item>
		<item>
		<title>Pembelajaran Interaksi Sosial dalam “Full Day School”</title>
		<link>http://apikdw.wordpress.com/2008/07/07/pembelajaran-interaksi-sosial-dalam-%e2%80%9cfull-day-school%e2%80%9d/</link>
		<comments>http://apikdw.wordpress.com/2008/07/07/pembelajaran-interaksi-sosial-dalam-%e2%80%9cfull-day-school%e2%80%9d/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 07 Jul 2008 20:44:22 +0000</pubDate>
		<dc:creator>laila sa'adah</dc:creator>
				<category><![CDATA[Opini]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://apikdw.wordpress.com/?p=16</guid>
		<description><![CDATA[Urin Laila Sa&#8217;adah Maraknya full day school yang sampai saat ini  mewarnai nuansa dunia pendidikan kita kelihatanya memang mulai diminati oleh masyarakat terutama dari kalangan ekonomi menengah keatas. Full day school pada saat ini memang dinilai cukup memberi alternative bagi beberapa pihak antara lain pertama bagi kalangan orang tua khususnya bagi mereka yang sibuk dengan [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=apikdw.wordpress.com&amp;blog=4092828&amp;post=16&amp;subd=apikdw&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://apikdw.files.wordpress.com/2008/07/fulday-school1.jpg"><img class="alignleft size-full wp-image-18" src="http://apikdw.files.wordpress.com/2008/07/fulday-school1.jpg" alt="" width="116" height="114" /></a>Urin Laila Sa&#8217;adah<br />
Maraknya full day school yang sampai saat ini  mewarnai nuansa dunia pendidikan kita kelihatanya memang mulai diminati oleh masyarakat terutama dari kalangan ekonomi menengah keatas.</p>
<p>Full day school pada saat ini memang dinilai cukup memberi alternative bagi beberapa pihak antara lain pertama bagi kalangan orang tua khususnya bagi mereka yang sibuk dengan pekerjaan, yang mana akan memudahkan control atas anak-anak mereka, kedua kekhawatiran akan pengaruh dari aspek lingkungan seperti pergaulan bebas, tawuran antar siswa, penggunaan obat-obat terlarang dll. Ketiga dari pihak guru lebih bisa mengetahui proses pembelajaran pada siswa mereka.<span id="more-16"></span></p>
<p>Banyak aspek positif yang memang bisa ditawarkan, terutama dari pandangan  pihak orang tua. Tapi kemudian apa yang akan terjadi dari proses perkembangan psikisnya karena tidak sesuai dengan lingkungan normal seperti teman-teman sebayanya? Kemudian pembelajaran apa yang juga akan berimplikasi pada anak dengan setting social yang seperti itu?</p>
<p>Dalam masa perkembangan terutama diusia pertengahan dan akhir anak-anak, dunia sosioemosional mereka menjadi sangat kompleks, ditandai dengan relasi keluarga, teman sebaya, kehidupan sekolahnya, dan yang paling penting perkembangan moralnya juga diawali pada masa-masa itu.</p>
<p>Sehingga proses hubungan social dengan dunia luar juga tetap harus diperhatikan. Interaksi sosial yang lebih kompleks secara tidak langsung juga lebih mematangkan hubungan social mereka. Banyak gambaran dan pengalaman yang akhirnya disimpan dalam kognisi mereka. Dari situlah kemudian bimbingan dan pengarahan kepada anak dilakukan. Mana yang memang baik dilakukan dan mana yang kemudian harus dijauhi. Sehingga tidak sepantasnya perilaku social mereka dibatasi sebab nantinya kecenderungan terhadap perilaku a sosial bisa saja muncul.</p>
<p>David Elkind (1976) menyebutkan tiga prinsip. Pertama isu penting di dalam pendidikan adalah komunikasi. Menurut teori piaget pikiran anak bukanlah suatu kotak yang kosong sebaliknya anak memiliki sejumlah gagasan tentang dunia fisik dan alamiah, yang berbeda dengan gagasan orang dewasa. Kedua anak selalu tidak mau belajar dan mau belajar kembali lebih lanjut untuk memperoleh pengetahun. Anak-anak datang ke sekolah dengan gagasan-gagasan mereka sendiri tentang ruang, waktu, sebab, jumlah dan angka. Ketiga anak pada dasarnya adalah suatu makhluk yang berpengetahuan yang selalu termotivasi untuk memperoleh pengetahuan. Cara terbaik untuk memelihara motivasi akan pengetahuan ini ialah membiarkan anak untuk secara spontan berinteraksi dengan lingkungan. Pendidikan harus menjamin bahwa pendidikan tidak akan menumpulkan rasa keingintahuan anak dengan menyususn suatu kurikulum yang sagat kaku yang merusak irama dan langkah belajar anak itu sendiri.</p>
<p>Full day school dengan kurikulun yang tentunya berbeda dengan kebanyakan sekolah lain. Desain pembelajaran berpusat pada siswa (student active learning). Fasilitas ruang kelas yang sangat eksklusif, meja kursi, ruang multimedia, komputer, perpustakaan di tiap kelas, dapur, taman penelitian, lapangan dan areal bermain yang layaknya di rumah sendiri memang menjaga anak dari rasa bosan dan jenuh.</p>
<p>Tapi perlu diperhatikan juga bahwa waktu untuk bersosialisasi secara langsung dengan dunia luar juga sangat penting bagi perkembangan social mereka. Sehingga jika memang orang tua masih mempunyai kesempatan bercengkrama dengan anak, dengan tidak hanya disibukkan dengan pekerjaan alangkah baiknya biarkan mereka berkembang secara normal, ada waktu untuk bermain dengan ligkungan sekitarnya, berinteraksi dan belajar dengan tetap mendapatkan pengarahan dan pengawasan.</p>
<p>Karena jika melihat setting social seperti itu, ada berbagai kemungkinan yang akan muncul pertama anak akan menjadi semakin tercerabut dari budaya daerahnya sendiri karena tidak ada waktu lebih untuk berinteraksi dengan lingkungannya kedua bisa menanamkan rasa individual yang semakin tinggi terhadap lingkungan sekitarnya. Ketiga kognitif sosialnya tidak terasah dengan baik karena tidak beragamnya ruang interaksi bagi mereka.</p>
<p>Walaupun nantinya muncul berbagai system pendidikan yang baik bagi anak, dengan berbagai fasilitas yang ditawarkan, tapi bila tidak ada perhatian, pendampingan dan kasih sayang dari orang tua, maka pendidikan itu tetap akan kurang bagi proses perkembangan mereka.</p>
<p>Mahasiswa Psikologi Sosial<br />
Universitas Islam Negeri (UIN) Malang</p>
<br /><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/apikdw.wordpress.com/16/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/apikdw.wordpress.com/16/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/apikdw.wordpress.com/16/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/apikdw.wordpress.com/16/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/apikdw.wordpress.com/16/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/apikdw.wordpress.com/16/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/apikdw.wordpress.com/16/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/apikdw.wordpress.com/16/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/apikdw.wordpress.com/16/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/apikdw.wordpress.com/16/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/apikdw.wordpress.com/16/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/apikdw.wordpress.com/16/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/apikdw.wordpress.com/16/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/apikdw.wordpress.com/16/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/apikdw.wordpress.com/16/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/apikdw.wordpress.com/16/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=apikdw.wordpress.com&amp;blog=4092828&amp;post=16&amp;subd=apikdw&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://apikdw.wordpress.com/2008/07/07/pembelajaran-interaksi-sosial-dalam-%e2%80%9cfull-day-school%e2%80%9d/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/c9d7b9689c31889c290149f9cc3079e9?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">apikdw</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://apikdw.files.wordpress.com/2008/07/fulday-school1.jpg" medium="image" />
	</item>
		<item>
		<title>Tubuh dan Tanahku</title>
		<link>http://apikdw.wordpress.com/2008/07/07/tubuh-dan-tanahku/</link>
		<comments>http://apikdw.wordpress.com/2008/07/07/tubuh-dan-tanahku/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 07 Jul 2008 20:06:19 +0000</pubDate>
		<dc:creator>laila sa'adah</dc:creator>
				<category><![CDATA[Kumpulan Cerpenku]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://apikdw.wordpress.com/?p=7</guid>
		<description><![CDATA[Oleh : laila sa’adah Malam mengurai mimpi bagi siapapun yang menghendaki keinginan. Gilasan mentari tak akan muncul dikala belum ada kursi yang tepat untuk menaunginya, malam tak menghendaki siapapun membawa petaka baru yang menyentil sekawanan petidur. Aku terusik ketika mimpiku bukan keinginanku. Terasa sebuah tamparan yang kuat mendarat dipipiku. Kalaupun urat tubuh ini terlihat mulai [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=apikdw.wordpress.com&amp;blog=4092828&amp;post=7&amp;subd=apikdw&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://apikdw.files.wordpress.com/2008/07/tubuh-dan-tanahku3.jpg"><img class="alignleft size-full wp-image-15" src="http://apikdw.files.wordpress.com/2008/07/tubuh-dan-tanahku3.jpg" alt="" width="140" height="105" /></a>Oleh : laila sa’adah</p>
<p>Malam mengurai mimpi bagi siapapun yang menghendaki<br />
keinginan. Gilasan mentari tak akan muncul dikala<br />
belum ada kursi yang tepat untuk menaunginya, malam<br />
tak menghendaki siapapun membawa petaka baru yang<br />
menyentil sekawanan petidur.<br />
Aku terusik ketika mimpiku bukan keinginanku. Terasa<br />
sebuah tamparan yang kuat mendarat dipipiku. Kalaupun<br />
urat tubuh ini terlihat mulai dari ubun-ubun sampai<br />
vaginaku akan terlihat bagaimana urat ini menegang<br />
menghentak saraf mata, telinga, hidung dan tangan<br />
untuk menendangnya sampai ke neraka.<br />
Rambut hitamku yang selalu tergerai indah, lurus dan<br />
panjang. Bola mata hitam dan tajam di payungi bulu<br />
mata lentik menatap belaian sutra yang menempel<br />
ditubuh kuning langsatku, tubuhku yang tidak begitu<br />
tinggi dan juga tidak terlalu pendek, kelihatan sesuai<br />
di ranjang tidur malam ini.<span id="more-7"></span>
<a href='http://apikdw.wordpress.com/2008/07/07/tubuh-dan-tanahku/tubuh-dan-tanahku3/' title='tubuh-dan-tanahku3'><img data-attachment-id='15' data-orig-size='140,105' data-liked='0'width="140" height="105" src="http://apikdw.files.wordpress.com/2008/07/tubuh-dan-tanahku3.jpg?w=140&#038;h=105" class="attachment-thumbnail" alt="tubuh-dan-tanahku3" title="tubuh-dan-tanahku3" /></a>
“hik….hik….hik”<br />
Tangisku sudah tak dapat kubendung lagi. Riasan di<br />
wajah sudah mulai luntur, mataku tertusuk lagi oleh<br />
air mata kelemahanku. Menjijikkan kenapa aku hanya<br />
bisa melawan dengan tangis, tangis, tangis yang hanya<br />
membuatmu merasa lemah dan selalu ingin ditolong. Tapi<br />
apa yang bisa aku lakukan jika pangeran yang selama<br />
ini aku puja dan sanjung dengan balutan cinta ternyata<br />
seorang penjajah yang hanya mengharap kenikmatan.<br />
Kalaupun pandanganku tidak buram dengan cinta setan<br />
ini sudah aku gulingkan penjajah yang berjenis kelamin<br />
lelaki itu, dia memberiku yang terbaik tapi dengan<br />
menyiksaku dan membuatku kagum tapi menghabisiku.<br />
Aku ingin keluar dari rantaimu, rantai system yang<br />
takkan pernah terurai, ketika satu tali mulai mengurai<br />
maka sudut lain akan mencoba untuk mempererat dan<br />
membuat rajutan itu semakin erat dan erat. System yang<br />
membuatku putus asa kapan akan terurai dan aku dapat<br />
menghirup udara segar dari jeratan-jeratanmu?<br />
relasi-relasi yang kau bikin itulah yang paling<br />
menyiksaku.</p>
<p>Aku tahu bahkan yakin kalau keluar dari jeratanmu<br />
bukan berarti “lepas” tapi bisa jadi malah membuka<br />
pintu lain untuk mendapatkan keindahan tubuhku dan<br />
kenikmatan yang akan ku berikan padanya, lewat<br />
gembong-gembongnya kau serahkan dan membuatku sangat<br />
tidak berdaya. Malam ini sudah menunjukkan sengatan<br />
yang tajam dalam diriku. Bahkan rasa perlawananku<br />
sudah sampai ke ubun-ubun, dengarkan ……..malam ini<br />
akan bertambah pekat dengan kegelapan yang ada dalam<br />
hatiku.</p>
<p>* * *</p>
<p>Jurang hati ini semakin dalam, aku hanya bisa<br />
berguling-guling dalam Lumpur kemiskinan dan berbagai<br />
kecurangan, hari ini mentari sudah menduduki<br />
singgasananya menolerkan sedikit energinya untuk<br />
sesuatu yang selalu mengharap-harapnya.<br />
Penjajah itu menemuiku setelah hampir 168 jam<br />
melemparku dengan nasib yang selalu terbebani, bagai<br />
orang yang selalu di kejar-kejar hutang.<br />
Matanya berbinar kagum, wajahnya welas asih dan sangat<br />
santun. Langkahnya mantab dengan lambaian tangan yang<br />
seakan-akan memberikan kelembutan dan kasih sayang.<br />
Sesaat aku terhipnotis dengan pesonanya. Rayuannya<br />
yang hanya lebih dari sebuah retorika dan mencengkeram<br />
kesadaranku.</p>
<p>Dia tersemyum simpul ketika tubuhku telah dipeluknya,<br />
kusandarkan kepalaku kurasakan dekapan tangannya<br />
menggenggam erat seakan-akan tak akan dilepaskannya.<br />
Eratnya dekapan itu, terkuncinya rayuan dalam otak<br />
ini. Terpahatnya kasih sayang ini dalam hati seakan<br />
tak pernah bisa, walaupun hanya sekedar membayangkan<br />
untuk bisa lepas dan merdeka.</p>
<p>Sekilas seringai itu manis tapi setelah berjangka<br />
menjadi sebuah tuntutan yang mengganas dan menjadikan<br />
busung lapar dan kematian. Mana yang dapat membalikkan<br />
nasib ketika kesadarannya sudah ada dalam tajamnya<br />
taring dalam mulutnya?</p>
<p>Kugelengkan kepala dengan sedikit menghentak dia<br />
terkejut-kejut, mungkin dia merasa kenapa gadisku<br />
berubah menjadi beringas?kudorong tubuhnya kedinding.<br />
Kulihat sesaat gurat wajahnya sudah berubah. Tapi<br />
sungguh bodohnya, kesadaran itu ternyata munafik<br />
ketika mental-mental ditubuhku ini masih<br />
membutuhkannya.</p>
<p>“kamu akan kelihatan cantik kalau tersenyum<br />
sayang”<br />
Aku tertekan dengan kata-katanya.</p>
<p>“sekilas aku teringat akan diriku yang takkan bisa<br />
lepas dari bantuannya.<br />
“oooh tidak aku tidak ada apa-apa, maaf kalau sesaat<br />
sudah menghancurkan kemesraan kita”<br />
“aaah aku tahu kalau kamu tidak akan pernah bisa<br />
lepas dari aku. Karena kamu lemah dari semuanya,<br />
bahkan untuk membenahi diri kamu sendiri kamu tidak<br />
mampu, tetaplah bersamaku…besok kau akan ku kenalkan<br />
dengan relasiku yang baru ”<br />
Kubiarkan tubuhku terhempas dalam pelukannya, biarkan<br />
aku merasakan kenikmatan sesaat ini, biarkanlah aku<br />
terhanyut walaupun aku nanti mati perlahan-lahan,<br />
dengan kelaparan, gizi buruk, busung lapar dan sumber<br />
kenikmatan itu hilang, kenikmatan yang kuandaikan ini<br />
sudah berada dalam rengkuhannya, ketika keindahan<br />
sebagai sumber kekuatanku mengikis dan lari, padahal<br />
aku telah memberikan kenikmatan yang aku sendiri tidak<br />
pernah merasakan atas diri sendiri.</p>
<p>* * *</p>
<p>Matilah kamu, sumpah serapah aku tidak akan mau<br />
meminta bantuanmu lagi, kamu sudah aku beri semua<br />
sumberdaya kenikmatanku, gunung, mulut yang lembut,<br />
perut yang gemulai indah ketika kau pinta untuk<br />
menari.<br />
Tapi setelah vagina ini seperti di sunat, kemudian<br />
untuk mendukung kenikmatanmu engkau membiarkanku untuk<br />
tidak bisa hanya menumbuhkan tenagaku. Setiap hari<br />
kamu lumat mulutku hingga manis yang kurasa habis,<br />
hanya sepah dan sebah yang kurasa. Kau lempar aku<br />
kesana-kemari, seakan-akan barang mainanmu. Sekarang<br />
semuanya sudah terbabat habis baru kurasakan<br />
limbungnya diriku nanti atas ancaman dan bergemuruhnya<br />
perut ini.<br />
Untuk menyisakan hanya sekedar dapat bernafas aku<br />
tidak lagi akan mendekatinya, kuhentikan hubungan<br />
dengan dia. Aku sangat sadar julukan penjajah yang aku<br />
sematkan kepadanya dulu ternyata bukan sekedar julukan<br />
tapi memang benar-benar penjajah bahkan kamu adalah<br />
orang yang menakutkan yakni seorang “skizofren”</p>
<p>* * *</p>
<p>“gila kamu gila, dan tidak waras, bagaimana kamu<br />
bisa mengingkari perjanjian kita, ayo ubah<br />
kebijakanmu, kalau tidak pistol ini yang akan<br />
bicara.”<br />
“ayo tembak, tembakkan saja sekarang, aku sudah<br />
tidak takut lagi, selama ini aku sudah terlalu lama<br />
tenggelam dalam korporasimu, setelah semua kau<br />
perawani, telah kau nikmati semua, semua seluk<br />
terindah dari tubuhku engkau sekarang masih<br />
mengejarku…….apa-apa maumu? Teman-temanmu telah<br />
menghabisiku, bahkan kau hanya tertawa saja….dasar<br />
begudaaaaaaal…</p>
<p>Kutatap cukup dekat matanya yang biru, bahkan wajah<br />
kami cukup dekat dan saling bertatapan.<br />
“apa sekarang aku diminta untuk jadi<br />
budakmu?&#8230;&#8230;&#8230;.aku…..yang telah terenggut<br />
kesucianku…..tapi tidak akan terinjak harga diri<br />
untuk saat ini”<br />
Kuteriakkan keras tepat di depan wajahnya.</p>
<p>“haaaa…….kamu punya harga diri, sejak dulu harga<br />
dirimu telah hilang, dari dulu kamu selalu meminta<br />
bantuanku, kamu tidak pernah percaya diri dengan<br />
potensimu, kamu tidak pernah mencintai dirimu sendiri,<br />
bahkan kamu menyinggung masalah harga diri<br />
…..ayampun tertawa, sekarang sudah tidak ada yang<br />
tersisa dari dirimu, sekarang kamu tingggal punya hati<br />
yang akan aku ambil, dan aku jual untuk di gunakan<br />
sebagai obat, itu akan lebih baik dari pada kondisimu<br />
saat ini yang sudah tidak punya harga diri. Seluruh<br />
organmu akan ku ambil dan akan aku donorkan pada orang<br />
yang sangat membutuhkan, kemampuanmu sekarang sudah<br />
tidak berguna dan hanya akan menjadi sampah yang<br />
sangat bau…, biar-biar aku amputasi ya<br />
sayang…….satu-satu dari bagian tubuhmu”<br />
Daguku diangkat oleh tangan kekarnya.<br />
“ lepaskan, sudah kubilang untuk kali ini<br />
tidak….tidak dan tidak, lebih baik aku mati dengan<br />
diriku saat ini, dari pada mati perlahan untuk menebus<br />
dosa-dosamu, biarkan sekarang aku berpijak dengan<br />
kakiku sendiri dan aku cukup yakin bisa bayar<br />
hutang-hutangku kepada mu.”<br />
“baik itu menandakan kau akan segera mati sehingga<br />
bisa kucincang mayatmu”<br />
“pergi kau bangsat atau kalau tidak gantian kau yang<br />
akan kulucuti, bule bermata biru”<br />
Aku sudah tidak sabar untuk membalas sengasaraku yang<br />
telah kualami saat ini, kuhampiri dirinya ketika dia<br />
berbalik dari hadapanku mau pulang kearah pintu.<br />
Kutarik kerah bajunya dari belakang, kutarik keras<br />
sampai dia terjatuh tersungkur, kemudian langsung<br />
kubuka kemeja bermotif bintang itu, ketika dia masih<br />
merasakan sakit di kepalanya akibat terbentur lantai.<br />
Satu persatu kubuka kemejanya dan kulempar jauh-jauh,<br />
kemudian kubuka celana panjangnya. Kutarik celana<br />
tersebut dan kulepar. Sekarang tinggal celana<br />
dalamnya, terlintas dalam benakku untuk menarik<br />
penisnya biar merasakan sakit yang pernah aku rasakan.<br />
Sebelum kubuka celana dalamnya sempat kudengar<br />
erangannya, ternyata kulihat sekilas kepalanya<br />
berdarah, tapi aku sudah tidak sabar untuk segera<br />
menarik penisnya yang tersimpan hormone<br />
testosteronnya.</p>
<p>Ha kutarik dengan keras dan aku sendiri semakin<br />
terkejut kenapa? Kenapa selama ini aku tidak<br />
mengetahui keburukannya, kuanggap dia begitu sempurna<br />
bahkan semua triknya aku pakai dan aku refleksi dalam<br />
diriku. Semua aku adopsi baik pemikirannya, semua<br />
tindakan bahkan kebijakan yang kuambilpun atas semua<br />
keputusannya.</p>
<p>Betapa bodohnya aku selama ini, benar kalau selama ini<br />
dia mengatakan dari dulu aku sudah tidak punya harga<br />
diri. Masa’ system kepemimpinanpun aku ikut mereka<br />
dengan demokrasinya, padahal dari dulu aku sudah tau<br />
kalau dari matanya dia biru dan aku hitam bagaimana<br />
aku menyamakan dengannya? Kemudian system sekolahpun<br />
juga tak lepas dari model kurikulumnya padahal dari<br />
warna rambutnyapun beda dia pirang aku hitam kenapa<br />
hal itu juga harus sama? kemudian dengan iming-iming<br />
developmentnyapun aku tergetar untuk mengikutinya<br />
padahal lagi-lagi kita jelas berbeda dari warna<br />
kulitnya aku sawo matang dia putih. Bahkan sampai saat<br />
inipun bisa dikatakan aku bangga ketika ketika aku<br />
memakai sampah dari produknya…aaaah<br />
terlalu….memang benar-benar aku ini adalah inlender<br />
….</p>
<p>Sampai saat ini ku lihat dengan mata kepelaku sendiri<br />
bahwa sebenarnya selama ini kita semua, benar-benar<br />
sama. Kalau dibilang kemampuan kita sama……sampai<br />
kulihat engkau tidak mempunyai penis itu tapi engkau<br />
memiliki yang sama denganku VAGINA. Selama ini memang<br />
engkau mampu menipu diriku dengan penampilanmu.<br />
Kalaupun kita berhubungan memang engkau tidak pernah<br />
memperlihatkan kunci yang ada dalam tubuhmu, kamu<br />
selalu mengundang seluruh relasimu sampai ketika<br />
seluruh keperawananku hilang kau serahkan pada temanmu<br />
tapi kamulah yang memonitoring semuanya, kaulah<br />
penyabab semuanya, andaikan ini semua bisa kukatakan<br />
pada dunia….kaulah yang harus di lawan….</p>
<p>“Engkau sekarang telah tau kalau memang benar-benar<br />
akan bangkit, aku yang engkau namakan suku, etnis dan<br />
dunia ketiga tidak akan pernah terima menyandang nama<br />
itu. Karena kau dan aku ternyata tidak jauh berbeda<br />
sama-sama mempunyai vagina.”</p>
<p>* * *</p>
<p>Terutuk seseorang yang selalu<br />
Memberiku semangat dan ketenangan dalam hatiku</p>
<p><strong>Refleksi dari cerpen diatas</strong></p>
<p>Ilmu pengetahuan memang akan selalu berkembang untuk<br />
merespon masanya, bila dulu kemodernan selalu dipuja<br />
dimana-mana dengan kiblat dunia barat. Kemudian<br />
seiring dengan zaman yang terus bergerak tumbuh pula<br />
ilmuawan-ilmuawan baru yang menyatakan bahwa saat ini<br />
kita harus melampaui modern yang kemudian di kenal<br />
dengan postmodern.<br />
Sehingga disitu jelas-jelas nampak bahwa jalan ilmua<br />
pengetahuan memang selalu bergerak, keberadaan<br />
kebenaran yang dulu diagung-agungkan ternyata mati dan<br />
terus beregulasi.<br />
Seperti diungkapan diatas bahwa ilmu pengetahuan<br />
bergerak karena merespon zamannya maka dengan analisis<br />
postmodern terbangun sebuah konsep mengenai<br />
postcolonial yang mana merasakan bahwa selama ini<br />
timur yang dijadikan dunia ketiga ternyata belumlah<br />
merdeka sepenuhnya. Setelah hasil bumi mereka diangkut<br />
ternyata kepercayaan mereka dan tradisi mereka juga<br />
dihapuskan melalui idiologi-idiologi yang sebelumnya<br />
mereka tanamkan. Said mengungkapkan bahwa timur selama<br />
ini hanya merupakan imajinasi dari barat atau dengan<br />
istilah lain timur memang sengaja untuk ditimurkan<br />
oleh barat.<br />
Penderitaan demi penderitaan sehingga akan terus<br />
diterima oleh dunia timur dengan label pembangunannya.</p>
<p>Malang, 18 juni 2006</p>
<p>Oleh:<br />
Laila Sa’adah<br />
Jln. Sunan Ampel no 22 Malang<br />
Mahasiswa UIN Malang<br />
Jln. Gajayana No. 50 Malang</p>
<br /><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/apikdw.wordpress.com/7/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/apikdw.wordpress.com/7/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/apikdw.wordpress.com/7/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/apikdw.wordpress.com/7/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/apikdw.wordpress.com/7/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/apikdw.wordpress.com/7/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/apikdw.wordpress.com/7/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/apikdw.wordpress.com/7/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/apikdw.wordpress.com/7/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/apikdw.wordpress.com/7/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/apikdw.wordpress.com/7/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/apikdw.wordpress.com/7/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/apikdw.wordpress.com/7/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/apikdw.wordpress.com/7/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/apikdw.wordpress.com/7/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/apikdw.wordpress.com/7/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=apikdw.wordpress.com&amp;blog=4092828&amp;post=7&amp;subd=apikdw&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://apikdw.wordpress.com/2008/07/07/tubuh-dan-tanahku/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/c9d7b9689c31889c290149f9cc3079e9?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">apikdw</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://apikdw.files.wordpress.com/2008/07/tubuh-dan-tanahku3.jpg" medium="image" />

		<media:content url="http://apikdw.files.wordpress.com/2008/07/tubuh-dan-tanahku3.jpg?w=140" medium="image">
			<media:title type="html">tubuh-dan-tanahku3</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Paceklik</title>
		<link>http://apikdw.wordpress.com/2008/07/07/paceklik/</link>
		<comments>http://apikdw.wordpress.com/2008/07/07/paceklik/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 07 Jul 2008 20:02:05 +0000</pubDate>
		<dc:creator>laila sa'adah</dc:creator>
				<category><![CDATA[My Poem]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://apikdw.wordpress.com/?p=6</guid>
		<description><![CDATA[Gemerincing air menyentuh bebatuan cadas Alirannya tak menghiraukan jurang menganga disampingnya Selintas lalu… Air menumbuhkan jundil-jundil kecil kesegaran Merayap penuh makna Meraba pada jemari tanah yang menggenggamnya Tapi waktu menafikan&#8230; Air berhenti pada waktu detak jantung Menghentakkan jarum jam kematiannya Bersama malaikat mengambil kesuburan Akankah Tuhan menurunkan kapas putih kesuciannya? Bersama setitik hujan atas cadas… [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=apikdw.wordpress.com&amp;blog=4092828&amp;post=6&amp;subd=apikdw&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://apikdw.files.wordpress.com/2008/07/paceklik1.jpg"><img class="alignleft size-full wp-image-10" src="http://apikdw.files.wordpress.com/2008/07/paceklik1.jpg" alt="" width="150" height="113" /></a></p>
<p>Gemerincing air menyentuh bebatuan cadas<br />
Alirannya tak menghiraukan jurang menganga<br />
disampingnya<br />
Selintas lalu…<br />
Air menumbuhkan jundil-jundil kecil kesegaran<br />
Merayap penuh makna<br />
Meraba pada jemari tanah yang menggenggamnya<br />
Tapi waktu menafikan&#8230;<br />
Air berhenti pada waktu detak jantung<br />
Menghentakkan jarum jam kematiannya<br />
Bersama malaikat mengambil kesuburan<br />
Akankah Tuhan menurunkan kapas putih kesuciannya?<br />
Bersama setitik hujan atas cadas…<br />
Di musim kering ini……<br />
Malang, 7 sept 2006<span id="more-6"></span></p>
<p><strong>Pemilu</strong><br />
Kabut menukar warnanya dengan senyum bidadari<br />
Pagi ini….<br />
Merajut suatu jalinan pada sebuah kebahagiaan<br />
Semilir angin perlahan menghanyutkan<br />
Tapi…<br />
Gemeresak rerimbunan daun berguguran<br />
Menggoyangkan akar pohon di hijaunya daun<br />
Aneh tepuk tangan di kehampaan hutan<br />
Lucu nyanyian tawa dipusara kesedihan<br />
Pucuk-pucuk daun hijau telah terobohkan<br />
Terganti robekan uang tak berharga<br />
Kabut ternyata tidaklah benar-benar tertanam<br />
Tapi hanya hiasan sekilas menggantikan pelangi<br />
Yang entah datang di kapan hari???<br />
Malang, 7 sept 2006</p>
<p><strong>Keringat Petani</strong></p>
<p>Pacul mendera-dera kebumi tertatap batu tanah<br />
Lukanya menganga tersiram air garam “perih”<br />
Belalang muncul tertatih menusuk pucuk-pucuk padi<br />
Tertegun petani diseberang perisai asap<br />
Aneh…<br />
Air tak mampir walau setetes kesawahku<br />
Semuanya berjalan tertambat di sela-sela<br />
Keringnya tangisan bayi<br />
Bumi telah mandul…<br />
Padi tak montok lagi…<br />
Hanya keserakahan tertancap dipasaknya<br />
Rindu yang tak pernah menuai<br />
Sesaat hanya aroma tanah kering tersiram hujan<br />
Menyambung ketentraman yang tak terdefinisikan…</p>
<p>Malang, 7 sept 2006</p>
<p>oleh Laila Sa&#8217;adah<br />
jln.sunan ampel no.22 malang</p>
<br /><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/apikdw.wordpress.com/6/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/apikdw.wordpress.com/6/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/apikdw.wordpress.com/6/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/apikdw.wordpress.com/6/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/apikdw.wordpress.com/6/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/apikdw.wordpress.com/6/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/apikdw.wordpress.com/6/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/apikdw.wordpress.com/6/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/apikdw.wordpress.com/6/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/apikdw.wordpress.com/6/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/apikdw.wordpress.com/6/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/apikdw.wordpress.com/6/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/apikdw.wordpress.com/6/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/apikdw.wordpress.com/6/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/apikdw.wordpress.com/6/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/apikdw.wordpress.com/6/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=apikdw.wordpress.com&amp;blog=4092828&amp;post=6&amp;subd=apikdw&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://apikdw.wordpress.com/2008/07/07/paceklik/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/c9d7b9689c31889c290149f9cc3079e9?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">apikdw</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://apikdw.files.wordpress.com/2008/07/paceklik1.jpg" medium="image" />
	</item>
		<item>
		<title>Saya Mulai Ngeblog</title>
		<link>http://apikdw.wordpress.com/2008/06/28/saya-mulai-ngeblog/</link>
		<comments>http://apikdw.wordpress.com/2008/06/28/saya-mulai-ngeblog/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 28 Jun 2008 14:15:10 +0000</pubDate>
		<dc:creator>laila sa'adah</dc:creator>
				<category><![CDATA[Uncategorized]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://apikdw.wordpress.com/?p=3</guid>
		<description><![CDATA[Berkali-kali saya masukan nama untuk menjadi user di wordpress akan tetapi tetap saja gagal. Waduh&#8230; ternyata susah juga untuk menjadi member di wordpress. untuk mencari nama user saja saya harus berkali-kali mencoba memasukan nama user. Saya rasa untuk bisa memiliki blog itu merupakan perjuangan yang tinggi. Betapa tidak, saya hampir putus asa untuk membuat user [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=apikdw.wordpress.com&amp;blog=4092828&amp;post=3&amp;subd=apikdw&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Berkali-kali saya m<a href="http://apikdw.files.wordpress.com/2008/06/226sunsetcelebration.jpg"><img class="alignleft size-full wp-image-5" src="http://apikdw.files.wordpress.com/2008/06/226sunsetcelebration.jpg" alt="" width="170" height="226" /></a>asukan nama untuk menjadi user di wordpress akan tetapi tetap saja gagal. Waduh&#8230; ternyata susah juga untuk menjadi member di wordpress. untuk mencari nama user saja saya harus berkali-kali mencoba memasukan nama user. Saya rasa untuk bisa memiliki blog itu merupakan perjuangan yang tinggi. Betapa tidak, saya hampir putus asa untuk membuat user yang hanya terdiri dari satu kata. Saya menginginkan satu kata supaya mudah diingat dan berbeda dengan blognya teman-teman yang namanya panjang banget dan sudah diingat&#8230;.</p>
<p>Alhamdulillah di akhir perjuangan saya menemukan nama user yang masih kosong di wordpress ini. ya www.apikdw.wordpress.com saya kira ini adalah nama yang pendek dan mudah diingat oleh siapapun. ini adalah posting pertama saya setelah saya memiliki blog baru. mudah-mudahan dengan membuat blog ini saya bisa terus menulis nantinya. Walaupun tidak pernah bercita-cita menjadi penulis, namun menulis merupakan bagian dari diri saya&#8230;.</p>
<p>begitu dulu ya&#8230;&#8230;</p>
<p>nanti kita sambung lagi di edisi selanjutnya&#8230;..</p>
<p>mungkin karena saya seneng banget nulis cerpen, di sini nanti akan muncul banyak cerpen yang tentunya apikdw&#8230;.</p>
<p>heee narsis yaaa gak papa yaaaaaaa</p>
<br /><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/apikdw.wordpress.com/3/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/apikdw.wordpress.com/3/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/apikdw.wordpress.com/3/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/apikdw.wordpress.com/3/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/apikdw.wordpress.com/3/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/apikdw.wordpress.com/3/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/apikdw.wordpress.com/3/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/apikdw.wordpress.com/3/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/apikdw.wordpress.com/3/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/apikdw.wordpress.com/3/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/apikdw.wordpress.com/3/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/apikdw.wordpress.com/3/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/apikdw.wordpress.com/3/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/apikdw.wordpress.com/3/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/apikdw.wordpress.com/3/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/apikdw.wordpress.com/3/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=apikdw.wordpress.com&amp;blog=4092828&amp;post=3&amp;subd=apikdw&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://apikdw.wordpress.com/2008/06/28/saya-mulai-ngeblog/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>3</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/c9d7b9689c31889c290149f9cc3079e9?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">apikdw</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://apikdw.files.wordpress.com/2008/06/226sunsetcelebration.jpg" medium="image" />
	</item>
	</channel>
</rss>
